Di Taman Kota
Ilustrasi | Pexels.com/Vera Arsic "Semuanya akan berakhir di sini," katamu yang berhasil menyayat hati ini, "kita putuskan saja di sini untuk selamanya," lanjutmu dengan tatapan yang serius. Aku menggelengkan kepala karena kalimat itu seperti bom waktu yang keluar darimu. Kemudian, tanganku merasa dingin seperti es yang sulit untuk mencair. "Aku tak bisa meneruskan kasih ini!" tegasmu yang terasa mantap ketika mengeluarkan kalimat semacam itu. Entah karena apa, batin ini malah hancur, tenggorokan ini pun seperti ada yang mengganjal, aku terdiam seperti angka lima di balik sudut yang paling sunyi ini. "Kenapa kamu tak bicara?"—kamu pun mendekatiku—"kenapa? Apakah kamu merasa salah dengan cinta yang pernah kita ukir ini?" Kamu pun terus-menerus memborbardirku dengan pertanyaan semacam itu. "Aku lebih baik diam daripada harus meladeni kamu dengan umpatan-umpatan yang mungkin saja bisa keluar dari mulut ini," kataku sambil m...


