D alam lamunan, aku berpikir bahwa Ayu ini bagaikan rembulan yang menyinari malam dengan sempurna. Kemudian, aku pun mematung sebentar di dalam konter ketika Ayu berhasil membacakan puisi. Bahkan, dalam pandangan yang nyata, aku sangat mengharapkan bahwa cinta dan kasih itu bisa tercipta dari Ayu untukku. Langkah panjang yang terus terukir dalam lamunan tidak akan sama persis dengan kenyataan. Aku memandang. Aku memandang mata Ayu yang seperti bola pingpong itu. Kemudian, aku melangitkan doa dalam hati ini, semoga wanita yang berada di depan ini bisa menjadi pilihan yang tepat untukku. "Puisi yang bagus, Kang," kata Ayu yang kemudian terlihat memberanikan diri untuk memandangku. "Seperti itu, kah?" tanyaku dengan sedikit tersenyum, "kalau itu bagus menurut kamu, aku cukup senang dengan semua itu," lanjutku. Ayu pun tersenyum ketika mendengar perkataanku itu. Kemudian, wanita yang berwajah bersih dan berhidung mancung itu malah membalik-balikkan amplop...