Postingan Terbaru

Proses Sosial dan Kecintaan yang Tak Pernah Bertahta!

Gambar
Ilustrasi | Pexels.com/Rakicevic Nenad Paling simpel dari pemahaman proses sosial ini ialah cara kita ketika berinteraksi dengan orang lain, baik itu keluarga, teman, ataupun kolega. Nah, hal semacam itu pun bisa termasuk ke dalam kehidupan sehari-hari yang seringkali kita terjebak dalam rutinitas yang monoton. Namun dalam hal itu, ada yang namanya proses kecintaan yang bisa berkesinambungan dengan proses sosial untuk membangun hubungan yang sehat dan bahagia. Proses sosial pun bisa menjadi salah satu proses yang terus berlangsung dan berkembang seiringnya waktu. Oleh karena itu, proses sosial ini jangan sampai dilupakan karena di sini bukan hanya untuk berinteraksi maupun berbicara saja, tapi juga tentang mendengarkan, memahami, dan menghargai orang lain. Kemudian, ada satu kata yang menarik di sini ialah kecintaan yang di mana dalam sisi lain ialah perasaan yang sangat kuat dan mendalam yang kita rasakan terhadap seseorang ataupun sesuatu. Hal semacam itu pun bisa termasuk ke ...

Pragmatik dan Implikatur Percakapan

 


Apa pernah mendapatkan atau membaca percakapan seperti ini:

1/
a: "Ani, apa sudah makan?" 
b: "Ani sudah kasih makan kucing."

2/
a: "Selamat pagi, Ani. Kita jalan-jalan, yuk!" 
b: "Apa kamu sudah menghadap Ibu?" 
a: "Sudah, Ani."

Kita seduh dulu kopinya terus yuklah mengingat kembali pelajaran yang sudah diajarkan biar tak lupa. Benar, kan?

Ini masalah tentang 'Pragmatik dan Implikatur Percakapan'. Langsung saja, ya! Pragmatik di sini dirumuskan sebagai telaah makna menurut si pembicara atau penulis. Secara lainnya juga, pragmatik berkaitan dengan penafsiran makna ujaran di dalam konteks. Sering juga makna ujaran dalam konteks tidak dapat ditafsirkan hanya berdasarkan makna kata-kata yang diucapkan.

Coba kita lihat dari contoh no 1, di sana terdiri percakapan antara a dan b. Coba kita lihat lagi jawaban si (b) itu tidak menjawab pertanyaan si (a) jika kita hanya melihat kata-kata yang digunakan. Namun, si (a) akan menafsirkan bahwa si (b) sudah makan. Si (a) tahu bahwa sudah kebiasaan, kucing diberi makan sesudah si (b) makan.

Nah, kita coba lihat lagi contoh no 2, di sana juga terdiri percakapan antara (a) dan (b). Percakapan sepasang kekasih antara (a) dan (b) yang mana si (a) mengajak jalan-jalan kepada si (b). Pertanyaan si (b) itu bukanlah karena mau mengajak jalan-jalan harus selalu menghadap dulu kepada ibu. Tuntutan itu adalah untuk meminta izin terlebih dahulu agar tak melanggar aturan. Dalam konteks seperti itu, pertanyaan si (b) "Apa kamu sudah menghadap Ibu?"

Nah, tulisan ini sudah mau sampai akhir. Dalam kedua contoh itu (1 dan 2) tampak bahwa pesan yang disampaikan "sudah makan" pada no (1) dan pertanyaan "Apa kamu sudah menghadap Ibu?" pada no (2) bukan berdasarkan makna kalimat, tetapi melalui penafsiran berdasarkan konteks ujaran. Jadi, prinsip dasar menafsirkan ujaran adalah bahwa semua ujaran yang ditunjukkan kepada lawan bicara relevan. Makna berupa tafsiran percakapan di atas disebut Implikatur Percakapan.

Sumber: Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia

....


Komentar

Tulisan Favorit Pembaca

Mengenal Tari Topeng Cirebon, Sejarah, Jenis, dan Filosofi yang Terkandung dari Keindahannya, Silakan Disimak!

5 Cakupan Tindak KDRT dan Akibat yang Bisa Terjadi, Pasutri Wajib Tahu!

Mari Berkenalan dengan Gurita Teleskop, Penghuni Laut Dalam!

Kue Kontol Sapi, Makanan Unik Khas Cilegon

Batu Hitam yang Terluka