Postingan Terbaru

Proses Sosial dan Kecintaan yang Tak Pernah Bertahta!

Gambar
Ilustrasi | Pexels.com/Rakicevic Nenad Paling simpel dari pemahaman proses sosial ini ialah cara kita ketika berinteraksi dengan orang lain, baik itu keluarga, teman, ataupun kolega. Nah, hal semacam itu pun bisa termasuk ke dalam kehidupan sehari-hari yang seringkali kita terjebak dalam rutinitas yang monoton. Namun dalam hal itu, ada yang namanya proses kecintaan yang bisa berkesinambungan dengan proses sosial untuk membangun hubungan yang sehat dan bahagia. Proses sosial pun bisa menjadi salah satu proses yang terus berlangsung dan berkembang seiringnya waktu. Oleh karena itu, proses sosial ini jangan sampai dilupakan karena di sini bukan hanya untuk berinteraksi maupun berbicara saja, tapi juga tentang mendengarkan, memahami, dan menghargai orang lain. Kemudian, ada satu kata yang menarik di sini ialah kecintaan yang di mana dalam sisi lain ialah perasaan yang sangat kuat dan mendalam yang kita rasakan terhadap seseorang ataupun sesuatu. Hal semacam itu pun bisa termasuk ke ...

Sebungkus Nasi

Sebungkus Nasi


"Ini buat, kamu!" Seorang lelaki berbadan gendut itu memberikan sebungkus nasinya kepada Ilham. 

"Nggaklah, Bang. Ini sudah ada!" Ilham menunjuk nasi bungkus yang sedang dimakannya. 

"Ini buat, kamu! Biar, cepat gede. Abang sudah makan tadi." 

Cacing yang ada di perut Ilham pun terdengar bersuara. Mungkin saja, dia belum makan dari pagi hingga menjelang sore. Untung saja, dia dan abangnya selalu dapat kiriman dari panitia masjid yang mengadakan bagi-bagi nasi bungkus setiap harinya. Jadi, Ilham pun bisa mengisi perutnya dengan makanan yang bergizi. 

Sebungkus nasi yang diberikan oleh Riko—abangnya Ilham, dia buka dengan perlahan-lahan. Sesekali, Ilham sangat ragu untuk memasukan nasi itu ke dalam perutnya. Namun, dia juga terlihat sangat kelaparan. Riko yang terus sibuk memainkan benda elektronik persegi panjangnya, sesekali dia tertawa cekikikan.

"Bang, ciee ketawa sendirian." Ilham memergoki Riko yang sedang asik bermain dengan benda yang ada di tangannya.

Riko itu hanya tersenyum saja sambil melihat wajahnya Ilham. 

"Ada apa, sih, Bang?" 

"Nggak, ada apa-apa," jawab Riko sambil tertawa. 

Hanya dengan memainkan benda itu, Riko bisa menghilangkan semua rasa yang menyelimuti dirinya. Entah, Riko itu tidak ingin melihat Ilham kesusahan dalam menjalani kehidupannya. Batinnya pun selalu memberontak, tetapi Ilham tidak boleh mengetahui apa yang sedang Riko rasakan.

Ini demi kamu, Ham. Abang berbohong bahwa abang juga belum makan dari pagi. Batinnya Riko pun berkata sambil melihat wajah Ilham.[]


24/03/20

Komentar

Tulisan Favorit Pembaca

Mengenal Tari Topeng Cirebon, Sejarah, Jenis, dan Filosofi yang Terkandung dari Keindahannya, Silakan Disimak!

5 Cakupan Tindak KDRT dan Akibat yang Bisa Terjadi, Pasutri Wajib Tahu!

Mari Berkenalan dengan Gurita Teleskop, Penghuni Laut Dalam!

Kue Kontol Sapi, Makanan Unik Khas Cilegon

Batu Hitam yang Terluka