di sudut kota, kedua mata ini melihat
perahu kertas yang kamu buat itu mengalir
di jalanan yang penuh dengan air kesedihan
hingga hujan pun berhasil membelahnya
ini semua ulah hujan,
kataku yang memutuskan bersembunyi
ini semua karena jalan yang jelek,
kataku lagi sambil memukul tembok
dari balik persembunyian,
aku mendengar banyak orang yang berteriak
mencari hidungnya
mencari matanya
mencari tangannya
mencari kakinya
hingga yang paling menyedihkan
mencari-cari jasadnya
aku benar-benar mematung,
di balik tembok dengan atap yang sederhana
air mataku pun mulai terjatuh
ketika membayangkan orang-orang itu
apalagi, ketika membayangkan jalan yang terbelah
oleh hujan-hujan yang Tuhan turunkan
dadaku semakin naik turun saja
tubuhku malah bergetar
jantungku sudah tak karuan
aku pun mulai ketakutan
pikiranku pun mulai bertanya,
apakah seperti ini musibah yang dihasilkan oleh manusia serakah?
masih di balik tembok,
aku duduk seperti angka enam
kedua tangan pun menengadah
mulut pun mengeluarkan kata-kata yang dilangitkan
aku pun berharap, semoga bisa keluar dengan aman!
2023
Komentar
Posting Komentar