Postingan Terbaru

Proses Sosial dan Kecintaan yang Tak Pernah Bertahta!

Gambar
Ilustrasi | Pexels.com/Rakicevic Nenad Paling simpel dari pemahaman proses sosial ini ialah cara kita ketika berinteraksi dengan orang lain, baik itu keluarga, teman, ataupun kolega. Nah, hal semacam itu pun bisa termasuk ke dalam kehidupan sehari-hari yang seringkali kita terjebak dalam rutinitas yang monoton. Namun dalam hal itu, ada yang namanya proses kecintaan yang bisa berkesinambungan dengan proses sosial untuk membangun hubungan yang sehat dan bahagia. Proses sosial pun bisa menjadi salah satu proses yang terus berlangsung dan berkembang seiringnya waktu. Oleh karena itu, proses sosial ini jangan sampai dilupakan karena di sini bukan hanya untuk berinteraksi maupun berbicara saja, tapi juga tentang mendengarkan, memahami, dan menghargai orang lain. Kemudian, ada satu kata yang menarik di sini ialah kecintaan yang di mana dalam sisi lain ialah perasaan yang sangat kuat dan mendalam yang kita rasakan terhadap seseorang ataupun sesuatu. Hal semacam itu pun bisa termasuk ke ...

Filosofi Ketupat Hidangan Khas Lebaran, Punya Makna Mendalam, Simak di Sini!

Filosofi Ketupat Hidangan Khas Lebaran, Punya Makna Mendalam, Simak di Sini!
Ketupat | Instagram @jajanan_jadul70

Sudah tak bisa dielakkan lagi bahwa ketupat ialah hidangan khas lebaran yang biasanya dimakan bersama opor ayam sambal goreng bawang nan lezat.

Harus bisa diketahui juga bahwa hidangan tersebut bukan hanya sebatas hidangan saja. Akan tetapi, hidangan tersebut, khususnya ketupat itu mempunyai filosofis yang mendalam.

Sebelumnya, menurut penelusuran sejarah bahwa asal-usul ketupat itu dimulai sejak hidup Sunan Kalijaga, yakni pada abad ke-15 hingga 16.

Kemudian, Sunan Kalijaga adalah seorang Wali Songo yang turut menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. 

Sunan Kalijaga pun menjadikan ketupat sebagai budaya dan filosofi dari pembaruan antara Jawa dan nilai-nilai Islam.

Menyelisik lebih dalam lagi terkait filosofi ketupat ini bahwa seperti yang dilansir dari laman Kedungboto, yakni memiliki makna filosofis sebagai berikut:


1. Janur kuning

Hal semacam ini bisa dilihat dari kebanyakan ketupat dibuat dengan janur kuning, walaupun sesekali juga ada yang dibuat dengan daun kelapa.

Namun, menurut cerita orang-orang tua terdahulu bahwa janur kuning merupakan perlambangan sebagai penolak balak. 

Jadi, tidak hanya ketupat, janur kuning sebagai penolak balak juga digunakan dalam acara lain, misalnya, hajatan pengantin.

Kemudian dalam falsafah jawa, janur bermakna sejane ning nur (arah menggapai cahaya—cahaya Illahi). Adapun, kuning bermakna sabdo dadi (yang dihasilkan dari hati atau jiwa yang bening).

Oleh karena itu, penggunaan janur kuning dalam membuat ketupat atau dalam berbagai hajatan itu mengandung cita-cita untuk menggapai atau memperoleh nur Allah dengan hati atau jiwa yang bening.


2. Bentuk empat sudut

Bentuk empat sudut ini bisa dilihat dari ketupat yang berbentuk segi empat dan hal itu menunjukkan empat penjuru mata angin.

Kemudian, bentuk segi empat ketupat pun melambangkan "kiblat papat limo pancer" atau empat arah mata angin dan pusat.

Bentuk semacam itu pun mencerminkan keseimbangan alam. Bahkan, secara religius bermakna bahwa ke mana pun manusia itu berjalan pasti menuju ke satu arah, yakni Allah.

Tidak sampai situ saja! Namun, secara akhlaki juga mencerminkan empat macam nafsu manusia, yaitu amarah, aluamah, supiah, dan mutmainah.

Keempat nafsu tersebut pun hanya mampu ditaklukan oleh satu amaliyah, yaitu dengan berpuasa. 

Oleh karena itu, dalam tradisi memakan ketupat lebaran maka disimbolkan sudah dianggap mampu menaklukan keempat nafsu tersebut.


3. Anyaman ketupat

Dalam hal semacam ini harus bisa dipahami bahwa gabungan janur kuning yang membentuk anyaman juga memiliki filosofis. 

Kemudian bagi orang Jawa, anyaman tersebut memiliki makna berbagai kesalahan dosa manusia.

Hal itu juga menggambarkan bahwa secara religius juga manusia itu tempatnya kesalahan dan kealpaan. 

Adapun ketupat, setelah dibelah dua dengan pisau menampakkan warna putih.

Nah, warna putih itu memiliki makna kebersihan dan kesucian manusia. Oleh karena itu, jikalau menilik pada tradisi lebaran, kebersihan dan kesucian itu hanya dapat diperoleh setelah tuntas melakukan amal ibadah selama Ramadan.


4. Beras

Terakhir ialah beras yang bagi sebagian masyarakat Indonesia, beras memiliki arti khusus. Ia pun melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan.

Adapun, beras dalam ketupat bermakna setelah hati dan jiwa manusia itu bersih dari empat macam nafsu yang sudah dituliskan di bagian atas.

Dengan demikian, beras pun bisa dimaknai sebagai lambang kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat itu hanya dapat diperoleh jika manusia dalam masyarakat itu memiliki hati dan jiwa yang bersih serta suci.

Nah, seperti itulah makna filosofis yang terkandung dalam ketupat yang sering menjadi hidangan khas lebaran. Kemudian, dalam hal tersebut pun bisa dimaknai sebagai lambang kebersihan, kesucian, dan seperti yang sudah dituliskan di atas.(*)

Komentar

Tulisan Favorit Pembaca

Mengenal Tari Topeng Cirebon, Sejarah, Jenis, dan Filosofi yang Terkandung dari Keindahannya, Silakan Disimak!

5 Cakupan Tindak KDRT dan Akibat yang Bisa Terjadi, Pasutri Wajib Tahu!

Mari Berkenalan dengan Gurita Teleskop, Penghuni Laut Dalam!

Kue Kontol Sapi, Makanan Unik Khas Cilegon

Batu Hitam yang Terluka