Postingan Terbaru

Di Malam Ini

Gambar
Ilustrasi | Pexels.com/Padli Pradana Izinkanlah kupeluk namamu di antara bulan yang masih menggantung di langit sampai aku merasa penuh warna. Kemudian, izinkanlah kugenggam suaramu dalam alunan bait-bait yang merdu meresap ke dalam kalbu ini. "Semuanya akan seperti bintang yang jatuh ke tanganmu," ucapmu di kala kita duduk di waktu malam. Aku mengerutkan kening ketika kalimat itu terdengar dan tenggorokan ini pun malah seperti ada yang mengganjal. "Kenapa?" tanyamu terasa kebingungan, "ada masalah, kah?" lanjutmu sambil menatapku. Di sini, aku seperti menanamkan luka di kala kau terus-menerus mengeluarkan kata yang sulit dipahami secara seksama. Aku menggeleng-gelengkan kepala, sedangkan kau malah melemparkan senyum yang menghujam dalam dada. "Kenapa diam aja, sih?"—kau pun memegang tangan  ini—"kalau ada apa-apa, bilang saja!" tegasmu. Kalimat itu seperti hujan di tanah tandus membangkitkan harapan untuk subur kembali. Aku terd...

Show don't Tell


Dalam menulis cerita itu harus memiliki atau mengetahui teknik-teknik dalam dunia kepenulisan. Tidak cukup saja kalau hanya mengandalkan PUEBI dan KBBI. Namun, teknik-teknik dasar, maupun yang susah harus bisa dipahami agar tulisannya tampak indah ketika dibaca oleh para pembaca. 

Salah satu teknik yang sering digunakan oleh penulis ialah 'Show don't Tell'. Apa itu? Show itu menunjukan yang bisa diartikan sebuah narasi harus bisa menunjukan keadaan tempat, pikiran, cuaca, dan lain-lain. Dalam teknik show ini, biasanya tulisan yang dibuat itu akan lebih dapat merasakan fell dalam tulisan tersebut. Dan ini biasanya lebih disukai oleh para penulis. 

Namun, kalau tell itu menceritakan. Jadi, penulis hanya menceritakan saja. Tidak secara detail. Ini membuat para pembaca mudah bosan. 

Contoh:

Tell:


Siang di seberang jalan, aku duduk sendiri tidak ada yang menemani. Suara knalpot kendaraan selalu terdengar dan banyak mobil motor yang aku lihat.

Salah satu Mang Bakso menghampiriku.

"Kang, sedang apa?" tanya Mang Bakso.

"Duduk, Mang," jawabku dengan mataku melihatnya.

"Bakso dulu, Kang! biar nggak pusing." Mang Bakso menawariku.

"Sok, Mang, baksona dikalada, nya!" perintahku.

"Siap, nanti aku kasih sepuluh sendok sambelnya."

Bakso pun sudah jadi dan aku langsung memakannya.

"Waw meuni lada, makyos pisan, Mang," ucapku.

Bakso sudah habis aku makan dan perut pun jadi mules sehingga ingin ke toilet terus.



***


Show:


Siang di seberang jalan, aku duduk di warung kopi, hanya sendiri saja tidak ada orang yang menemani. Panas mentari pun menyorot tajam ke arah kursi yang aku duduki. Aku melihat ke jalan, banyak banget mobil yang berlalu-lalang dan suara knalpotnya sangat bising, bau membuat tubuh ini mau pingsan.

Tukang bakso melihat aku duduk sendirian di warung kopi. Ia pun langsung menghampiriku dengan membawa roda baksonya. Sambil berjalan, ia pun menakol mangkuk baksonya dengan sendok. 

"Kang, sedang apa?" tanya Mang Bakso tepat di hadapanku, dengan terlihat sedikit kebingungan melihat keadaanku yang sudah lemas.

"Duduk, Mang," jawabku, dengan kepala bersandar ke tembok.

"Bakso dulu, Kang! Biar ngga pusing." Mang Bakso menawari dan mendekatiku, terus ia istirahat duduk di sampingku.

"Sok, Mang, baksona dikalada!" Kepalaku masih bersandar ke tembok karena lemas dan pusing tujuh keliling serasa ingin pingsan.

"Siap, nanti aku kasih sepuluh sendok sambelnya!" Mang Bakso dengan muka sedikit kebingungan langsung kembali lagi menuju rodanya, membuatkan bakso untukku dengan memasukan bihun, bakso besar, dan sambal yang banyak.

Bakso dan kerupuknya pun sudah jadi dan diletakkan di meja warung kopi dengan sambal yang banyak. Aku pun langsung bergerak agar kepalaku enggak bersandar lagi dengan tembok. Namun, waktu aku melihat baksonya. Waw pasti enak, nih? Aku makan sampai habis, nih!

"Waw meuni lada! Makyos pisan, Mang," ucapku. Bibir langsung terlihat merah merekah, air mata pun langsung keluar dan badanku berkeringat.

Bakso sudah habis aku makan. Sebab bakso yang ekstra pedas, aku yang tadinya mau pingsan. Akhirnya, enggak jadi, tetapi perut aku sakit mules. Oleh karena itu, aku sering bolak-balik ke toilet untuk buang air besar terus.



***


Bisa kan membedakannya?[]

Komentar

Tulisan Favorit Pembaca

Mengenal Tari Topeng Cirebon, Sejarah, Jenis, dan Filosofi yang Terkandung dari Keindahannya, Silakan Disimak!

5 Cakupan Tindak KDRT dan Akibat yang Bisa Terjadi, Pasutri Wajib Tahu!

Mari Berkenalan dengan Gurita Teleskop, Penghuni Laut Dalam!

Kue Kontol Sapi, Makanan Unik Khas Cilegon

Batu Hitam yang Terluka