Postingan Terbaru

Proses Sosial dan Kecintaan yang Tak Pernah Bertahta!

Gambar
Ilustrasi | Pexels.com/Rakicevic Nenad Paling simpel dari pemahaman proses sosial ini ialah cara kita ketika berinteraksi dengan orang lain, baik itu keluarga, teman, ataupun kolega. Nah, hal semacam itu pun bisa termasuk ke dalam kehidupan sehari-hari yang seringkali kita terjebak dalam rutinitas yang monoton. Namun dalam hal itu, ada yang namanya proses kecintaan yang bisa berkesinambungan dengan proses sosial untuk membangun hubungan yang sehat dan bahagia. Proses sosial pun bisa menjadi salah satu proses yang terus berlangsung dan berkembang seiringnya waktu. Oleh karena itu, proses sosial ini jangan sampai dilupakan karena di sini bukan hanya untuk berinteraksi maupun berbicara saja, tapi juga tentang mendengarkan, memahami, dan menghargai orang lain. Kemudian, ada satu kata yang menarik di sini ialah kecintaan yang di mana dalam sisi lain ialah perasaan yang sangat kuat dan mendalam yang kita rasakan terhadap seseorang ataupun sesuatu. Hal semacam itu pun bisa termasuk ke ...

Mencari Tahu, Kenapa 'Bajingan' Mengalami Pergeseran Makna dari Profesi Menjadi Kata Makian?

Mencari Tahu, Kenapa 'Bajingan' Mengalami Pergeseran Makna dari Profesi Menjadi Kata Makian?

Salah satu hal yang sering membuat penasaran itu adalah pelajaran sejarah. Ya, dengan sejarahlah bisa mengetahui apa yang dulu pernah terjadi dan semua itu akan sangat baik untuk pengetahuan ke depannya. Memang, hal semacam ini pun bisa sangat rumit dan tak bisa dielakkan lagi kedudukannya. Sebab, hal yang menyangkut sejarah pun bisa berbeda-beda pandangan dalam menyampaikannya atau memberikan informasinya (ada yang detail dan ada yang fokoknya saja). Namun, semua itu pun tak bisa dilepaskan dari sejarah yang disampaikannya. 

Pandangan seperti itu, mungkin terus berlanjut hingga sekarang ini. Akan tetapi, semua itu pun tak bisa disalahkan. Sebab, semua itu adalah hal yang biasa saja. Kemudian, pernahkah Anda mendengar kata 'bajingan'? Atau malah sering mengucapkannya? Mungkin, sebagian orang pernah mendengarnya dan sebaliknya. 

Memang, kata 'bajingan' di zaman sekarang sudah menjadi umpatan. Namun, dari semua itu ada sejarah yang menciptakan kata seperti itu menjadi umpatan. Kemudian, apa sejarahnya? Sejarahnya lumayan akan berbanding terbalik dengan arti di zaman sekarang. Namun, hal semacam ini pun bisa menjadi salah satu pengetahuan untuk diketahui agar bisa menambah wawasan ke depannya. 

Kemudian, seperti apa makna yang terkandung di dalam kata 'bajingan', sebelum menjadi kata makian di zaman sekarang? Harus bisa diketahui bahwa akar permasalahan ini sangat berbanding terbalik. Sebab, kata 'bajingan' ini kalau dilihat dari historis itu adalah kata yang digunakan untuk penyebutan salah satu profesi di zaman Mataram atau sejak abad ke-16. Nah, hal selanjutnya, 'bajingan' ini adalah salah satu profesi umum bagi masyarakat Jawa. Oleh karena itu, profesi ini memegang erat kerukunan dan kekerabatan yang diwadahi oleh paguyuban penarik gerobak sapi atau 'bajingan'. 



Nah, jikalau melihat dari sini 'bajingan' itu bisa diartikan sebagai profesi kusir gerobak sapi. Bukan hanya itu saja! Akan tetapi, 'bajingan' pun menjadi salah satu kearifan lokal yang sudah ada sejak zaman dulu. Harus diketahui juga bahwa menurut sejarah yang beredar adalah sapi itu hewan yang paling disukai Kerajaan Mataram. Kemudian, gerobak sapi pun berawal dari Kerajaan Mataram yang sudah menganut ajaran Islam. Oleh karena itu, bajingan di pekerjakan untuk menarik hasil panen oleh masyarakat Mataram. 

Bagaimana, apakah masih belum jelas dengan semua hal ini? Oke, coba dilanjut ke bagian yang lebih serius, ya! 

Ada beberapa orang juga yang menyampaikan pendapatnnya tentang kata 'bajingan' ini. Memang, kata ini menjadi salah satu kata yang mengalami perubahan makna atau hal lainnya. Oleh karena itu, kata semacam ini sangat menarik untuk diulik hingga bisa mencari pengetahuan yang mendalam. 

Kemudian, harus bisa disyukuri menurut kabar bahwa komunitas ini pun masih ada atau bertahan hingga saat ini. "Pasca kemerdekaan hingga hari ini, masyarakat Bantul, Yogyakarta, masih melestarikan paguyuban para penarik gerobak sapi" tulis Dito Ardhi Firmansyah dalam karyanya yang berjudul Kontruksi Makna Kata Bajingan (Studi Etnografi Perubahan Makna Kata Bajingan dalam Komunitas Kusir Gerobak Sapi di Bantul Yogyakarta), publikasi tahun 2018.

Bukan hanya Dito saja yang menyampaikan pandangannya tentang perubahan makna 'bajingan' ini. Akan tetapi, Desanti Arumingtyas Dyanningrat dalam karyanya berjudul Perancangan Buku Nilai Sejarah dan Filosofi Mataram Islam Pada Gerobak Sapi, publikasi tahun 2018 menjelaskan bahwa "dalam kultur budaya Jawa kusir gerobak sapi disebut 'bajingan', singkatan dari bagusing jiwo angen-angening pangeran yang artinya orang baik yang dicintai Tuhan".

Ia menambahkan, "Mulianya, pada saat perjuangan kemerdekaan, bajingan jadi salah satu opsi dalam perang geilya untuk persembunyian para pejuang dibalik rumput dan hasil panen dalam gerobaknya". Lantas mengapa belakangan, kata 'bajingan' cenderung menjadi sentimen di masyarakat sekarang?

"Nak, jika mereka memberitahumu bahwa aku adalah bajingan yang tidak memiliki keberanian melakukan keadilan, bahwa banyak ibu yang meninggal karena kesalahanku..." sepenggal tulisan Multatuli dalam bukunya Max Havelaar, terbitan tahun 1860. Tulisan yang mengindikasi penggunaan kata 'bajingan' sebagai bentuk umpatan sejak abad ke-19.

Tak bisa dielakkan lagi bahwa 'bajingan' menjadi salah satu yang populer di masa 1900 hingga 1940-an. Namun, setelah tahun itu, 'bajingan' pun menjadi salah satu yang langka di Yogyakarta. Kemudian, masyarakat beralih atau turut serta dalam menarik menggunakan kerbau. Bukan hanya itu saja, sebab kendaraan semacam ini pun bisa terbilang sangat lambat. Maka, tak jarang juga para penumpang pun mengeluh setelah lama menunggunya. 



"Bajingan kok suwe tekone." (Bajingan kok lama datangnya.), atau "Bajingan gaweane suwe!" (Bajingan lambat kerjanya/jalannya). Seringnya keluhan-keluhan tersebut dilontarkan, kata 'bajingan' kemudian mengalami pergeseran makna. 

Bisa dilihat dari makna sebelumnya sampai mengalami pergeseran di masa sekarang ini. Memang, hal semacam ini pun bisa diakibatkan oleh suatu perkembangan dalam berbahasa. Maka, tak jarang suatu kata pun bisa berubah hingga saat ini. 

Hal semacam ini pun bisa dikatakan bahwa makna yang semulanya sangat mulia. Kenapa mulia? Ya, bermakna untuk penyebutan suatu profesi. Namun, sangat berbanding terbalik di zaman ini yang menjadi umpatan. Bukan hanya itu saja! Mungkin, karena efek yang dulu sering mengecewakan jadi kata 'bajingan' itu maknanya bergeser jadi umpatan. Sampai-sampai, kata semacam itu pun menjadi tabu di zaman sekarang ini atau tergolong negatif. 

KBBI V pun sudah memasukkan kata 'bajingan' itu yang berarti penjahat, pencopet atau kata makian. Jadi, hal semacam itu pun alangkah indahnya, jikalau bisa diketahui bahwa makna kata pun bisa bergeser yang tadinya bersifat positif menjadi negatif.[]

Komentar

Tulisan Favorit Pembaca

Mengenal Tari Topeng Cirebon, Sejarah, Jenis, dan Filosofi yang Terkandung dari Keindahannya, Silakan Disimak!

5 Cakupan Tindak KDRT dan Akibat yang Bisa Terjadi, Pasutri Wajib Tahu!

Mari Berkenalan dengan Gurita Teleskop, Penghuni Laut Dalam!

Kue Kontol Sapi, Makanan Unik Khas Cilegon

Batu Hitam yang Terluka