Postingan Terbaru

Kupu-Kupu

Gambar
Ilustrasi | ‎Pexels.com/Quang Nguyen Vinh ‎kini, ‎toples berlapis emas ‎hanya jadi pajangan ‎yang tak terisi ‎oleh kupu-kupu ‎yang kudambakan ‎ ‎kini, ‎kupu-kupu itu selalu pergi ‎ketika hati ini mulai terbuka ‎untuk diisi oleh taman-taman keindahan ‎ ‎kini, ‎aku hanya bisa duduk ‎menunggu kupu-kupu itu ‎datang lalu hinggap ‎di bunga-bunga yang mekar ‎di taman hati ini ‎ ‎2026

Gunung Keling (2014)

Gunung Keling (2014)


Sudah terlalu lama. Kenang-kenangan itu 

berdiam dengan sangat cantik di dalam 

buku yang sampulnya berdebu. Tertulis 

sangat indah dengan gaya grafitti, BM03

(Botak Manis 03); garis keras antarpelajar. 


Ya, kenangan itu begitu indah. Meresap, 

menyatu dengan tubuh seorang lelaki

yang berambut satu sentimeter. Sungguh,

semua itu bak memori yang terbuka lagi.

File-file-nya bergoyang-goyang di buku itu. 

Sampai, seorang lelaki itu menggaruk-garuk

kepala yang tak gatal seperti ada cahaya di atasnya.


Lelaki itu mengingat! Ya, mengingat ketika pagi,

selalu berhadapan dengan manusia berseragam

pembawa mesin cukur rambut. Entahlah! Sewaktu itu,

lelaki itu sering masuk ke dalam helm seperti keong. 

Bersembunyi. Manusia berseragam itu sangat lihai

membantai rambut yang panjang dan tak tahu aturan. 

Sungguh! Banyak juga yang menyesalkan kejadian itu,

sebab bisa saja menghilangkan pesona para lelaki

yang punya wajah tak ganteng-ganteng amet.


Di tempat diam kendaraan, manusia pembawa pentungan

selalu mengecek knalpot yang dibawa para lelaki. Entahlah!

Seorang lelaki itu masih untung karena knalpotnya itu

tak centil sehingga tak banyak gaya. Namun, sangat 

berbeda dengan lelaki lain yang knalpotnya harus rela

dipentung hingga pengong tak berbentuk lagi. 


lelaki lain berceloteh, sial si Pentungan memang gila.

Sedangkan, lelaki itu hanya bisa menikmati setiap adegan

secara langsung penghancur knalpot centil itu.

Knalpot-knalpot itu juga banyak yang berteriak,

kesakitan. Namun, si empunya hanya bisa pasrah

sambil menundukkan kepala; sedih.


Pikiran lelaki itu tampak meloncat ke belakang dengan

santainya. Para manusia berseragam pun terlihat puas,

si Pentungan pun terlihat capai. Lelaki lain pun terlihat

kesal dan marah yang tak punya keberanian.


Setelah itu, kedua tangan lelaki itu memegang kepala. 

Kedua kakinya ambruk, badannya bergoyang-goyang, 

mulutnya pun berteriak hingga seisi ruangan menutup 

telinga lalu lelaki lain tersungkur tak ingat kehidupan lagi.


Ternyata, oh, ternyata lelaki itu tak kuat untuk menahan 

semua pelajaran yang mau masuk ke dalam kepalanya. 

Wajahnya pun tampak memerah, kedua tangannya pun 

malah memukul-mukul kepalanya hingga dibentur-benturkan 

ke tembok ruangan Benkel Teknik Kendaraan Ringan, 

Gunung Keling.


2021

Komentar

Tulisan Favorit Pembaca

Mengenal Tari Topeng Cirebon, Sejarah, Jenis, dan Filosofi yang Terkandung dari Keindahannya, Silakan Disimak!

5 Cakupan Tindak KDRT dan Akibat yang Bisa Terjadi, Pasutri Wajib Tahu!

Mari Berkenalan dengan Gurita Teleskop, Penghuni Laut Dalam!

Kue Kontol Sapi, Makanan Unik Khas Cilegon

Batu Hitam yang Terluka