Postingan Terbaru

Kupu-Kupu

Gambar
Ilustrasi | ‎Pexels.com/Quang Nguyen Vinh ‎kini, ‎toples berlapis emas ‎hanya jadi pajangan ‎yang tak terisi ‎oleh kupu-kupu ‎yang kudambakan ‎ ‎kini, ‎kupu-kupu itu selalu pergi ‎ketika hati ini mulai terbuka ‎untuk diisi oleh taman-taman keindahan ‎ ‎kini, ‎aku hanya bisa duduk ‎menunggu kupu-kupu itu ‎datang lalu hinggap ‎di bunga-bunga yang mekar ‎di taman hati ini ‎ ‎2026

Kelam Itu Masih Ada


Di balik malam, aku mencoba untuk bersembunyi di antara kelam-kelam yang sering melanda. Aku malah tenggelam. Aku malah tak bisa berlari. Kemudian, semua hal yang pernah terlewati itu malah keluar dari dalam kepala dan akhirnya kelam itu menyerang batin ini. Mengobrak-ngabrik. Dan akhirnya, semua itu menjadi suatu air mata yang jatuh hingga menciptakan danau di wajah ini.

Kelam itu masih ada, kataku kepada langit yang mungkin saja malah mentertawakan diri ini! 

Alam pun malah tertawa di kala diri ini diserang oleh kelam-kelam yang tak mengetahui aturan. Aku menangis. Aku mencoba untuk menenangkan pikiran. Kutulis sajak. Kutulis puisi. Kutulis cerita pendek. Kutulis air mata ini di kertas-kertas yang kutemui di jalanan. Kemudian, aku harus bagaimana lagi agar kelam-kelam ini bisa hilang di dalam diri ini?

Ketika malam semakin malam, kelam-kelam itu malah berdiam di dalam pikiran hingga menusuk-nusuk hati yang paling dalam. Jika, aku harus berteriak maka teriakan itu tak akan mampu juga untuk menghilangkan kelam ini! Sungguh, aku sangat sulit mengerti, kenapa kehidupan ini seperti tak berpihak kepadaku? Kenapa? Kenapa?



Waktu tak bisa diputar kembali, apalagi kehidupan tak bisa berjalan ke belakang lagi. Namun, kenapa semua hal kebahagiaan itu tak selalu berjalan dengan baik? Kenapa? Semua hal itu malah menjadikan musibah yang selalu melanda hati. Kemudian, jikalau kehidupan ini selalu tampak indah menurut orang-orang, tapi kenapa malah sebaliknya menurut batin ini? 

Di kala malam, kelam-kelam itu sangat terasa di antara sunyinya kehidupan. Kemudian, kesunyian yang menerobos pori-pori tubuh itu malah semakin menusuk hingga hati ini. Hmm. Hati ini sudah seperti tempat untuk siksaan-siksaan yang akan dilakukan oleh kelam dan sunyi hingga aku pun hanya bisa berdiam diri. 

Jika, semua itu menjadi salah satu peristiwa yang menyakitkan, ya, seperti itulah rasa sakit di batin ini. Bahkan, sampai-sampai, aku hanya bisa menangis di pojokan kamar dan tak tahu lagi harus berbuat apa agar dunia ini bisa seperti yang aku inginkan. Tuhan, lihatlah ke sini! Tuhan, lihatlah ke sini! Kataku di dalam hati yang terus terulang-ulang.



Kelam itu masih ada, empat kata itu yang menjadikan sebuah kehidupan ini tak berwarna. Hmm, sampai-sampai kehidupan ini serasa hampa tanpa ada sesuatu hal yang berharga. Kelam itu masih ada di antara hening-hening, ramai-ramai, dan ruwetnya dunia yang menurut orang-orang itu adalah panggung sandiwara.

Entahlah! Sekarang, malah terasa hancur hingga berkeping-keping dan sulit rasanya untuk bangkit dan berjalan memakai kaki sendiri. Kadang, ingin sekali berteriak dan bertanya, aku harus bagaimana? Namun, pertanyaan semacam itu malah menjadi salah satu hantu yang selalu bergentayangan di dalam kepala. Mungkin, menurut orang-orang, pertanyaan semacam itu adalah biasa saja karena pasti saja setiap insan yang sedang kacau maka akan bertanya semacam itu. Namun, entahlah dan entahlah karena kelam itu masih ada![]


2022

Komentar

Tulisan Favorit Pembaca

Mengenal Tari Topeng Cirebon, Sejarah, Jenis, dan Filosofi yang Terkandung dari Keindahannya, Silakan Disimak!

5 Cakupan Tindak KDRT dan Akibat yang Bisa Terjadi, Pasutri Wajib Tahu!

Mari Berkenalan dengan Gurita Teleskop, Penghuni Laut Dalam!

Kue Kontol Sapi, Makanan Unik Khas Cilegon

Batu Hitam yang Terluka