Postingan Terbaru

Proses Sosial dan Kecintaan yang Tak Pernah Bertahta!

Gambar
Ilustrasi | Pexels.com/Rakicevic Nenad Paling simpel dari pemahaman proses sosial ini ialah cara kita ketika berinteraksi dengan orang lain, baik itu keluarga, teman, ataupun kolega. Nah, hal semacam itu pun bisa termasuk ke dalam kehidupan sehari-hari yang seringkali kita terjebak dalam rutinitas yang monoton. Namun dalam hal itu, ada yang namanya proses kecintaan yang bisa berkesinambungan dengan proses sosial untuk membangun hubungan yang sehat dan bahagia. Proses sosial pun bisa menjadi salah satu proses yang terus berlangsung dan berkembang seiringnya waktu. Oleh karena itu, proses sosial ini jangan sampai dilupakan karena di sini bukan hanya untuk berinteraksi maupun berbicara saja, tapi juga tentang mendengarkan, memahami, dan menghargai orang lain. Kemudian, ada satu kata yang menarik di sini ialah kecintaan yang di mana dalam sisi lain ialah perasaan yang sangat kuat dan mendalam yang kita rasakan terhadap seseorang ataupun sesuatu. Hal semacam itu pun bisa termasuk ke ...

Kehidupan dan Perjalanan di Dunia

Kehidupan dan Perjalanan yang Harus Dipahami!
Ilustrasi | Pexels.com/Josh Willink

Aku masih di sini, kataku pelan yang mungkin saja tak terdengar oleh siapa pun. Kadang, semua hal yang pernah terencana itu hilang seketika dan tak ada bekas sedikit pun. Aku merenung. Bahkan, aku meneteskan air mata dan sudah seperti anak kecil yang sedang kelaparan.

Di tempat yang begitu sunyi, di bawah gedung yang atapnya sudah jebol, aku menyadari bahwa dunia ini sangat keras untuk dilalui. Aku menangis lagi dalam lamunan hingga mungkin saja seorang wanita yang duduk di sebelah gedung itu melihatku. Hmmm.

Apakah ini yang dinamakan takdir? Ketika semua hal ini sudah seperti kapas yang tertebak angin dan tak menentu arah tujuannya. Aku menggeleng-gelengkan kepala tanda semua ini terasa sulit untuk dijalani.

Apakah harus marah kepada dunia? Rasanya semua itu tak bisa untuk dilakukan demi kepentingan hati yang memang-memang terluka. Rasanya, semua kemarahan itu tak akan bisa menjadikanku kuat hingga bisa memegang dunia yang keras ini.

Dalam rintik-rintik hujan yang mulai membasahi jalanan, aku menyadari bahwa perjalanan hidup itu ada yang mudah dan berkelok-kelok. Bahkan, hal semacam itu sudah seperti dongeng malam hari yang sering diucapkan oleh ayah ataupun ibu. Aku menyadari semua itu, tapi masih saja sulit untuk bisa menerimanya.

Apakah salah kalau mengharapkan sesuatu? Entahlah, pertanyaan semacam ini belum bisa aku jawab dengan hati yang terbuka. Sebab, ketika harapan itu di depan mata, selalu ada saja penghambatnya. Aku terdiam seperti angka enam dan sulit untuk berpikir lagi tentang harapan itu.

Apakah hal yang dinamakan keajaiban akan datang memeluk diri ini? Pertanyaan ini seperti retorika yang berulang-ulang untuk menguatkan hati. Aku menggeleng-gelengkan kepala seperti orang linglung, lalu menyandarkan tubuh ini pada tembok yang catnya sudah kusam.

Dalam pemikiran yang sungguh rasional menurut diri ini, bahwa kehidupan itu harus banyak belajar dari lebah yang bisa terdiam dan menyerang saat diganggu. Namun, apa boleh buat hidup ini rasanya tidak rasional yang semuanya bisa dibeli oleh si empunya kuasa. Aku bingung. Aku pun sangat lelah dengan semua yang terjadi dalam hidup ini.

Masih di bawah gedung yang atapnya sudah jebol, aku sendiri saja dengan hati yang sudah gundah gulana. Kemudian, kedua mata ini menyapu setiap sudut jalanan yang dilewati oleh kendaraan-kendaraan mewah para pejabat. Aku mengerutkan kening karena tak mengerti, hal apa yang ada di benak pejabat itu sehingga melaju kencang di jalanan basah hingga airnya menyiprat ke depan wajahku. Hmm. Sungguh biadab! Sungguh terlalu!

Setelah hujan benar-benar tak membasahi jalanan, aku berdiri dan mulai berhitung untuk berjalan lagi menyusuri kota yang langitnya sudah hitam. Aku tercengan dengan apa yang dilihat: banyak orang yang menggerus dirinya sendiri di ladang hitam, banyak orang yang mungkin tak mengerti keadaan hingga merasa paling sempurna, dan banyak orang juga yang memegang kepala karena mungkin saja ulahnya sendiri.

Dalam hati, aku berkata bahwa semua di dunia ini mempunyai persoalannya masing-masing dan sulit untuk bisa ditebak. Sekali lagi, aku mengerutkan kening karena tak kuasa untuk menahan mata yang terus memandang orang-orang di tempat remang-remang itu. Hmm. Sungguh di luar nalar!

Perjalanan yang aku tapaki ini seperti membukakan mata hati dari kegelapan. Kemudian, aku pun jadi memahami bahwa semua hal yang menempel di diri ini sudah sesuai dengan kadar yang diberikan oleh-Nya. Aku memahami dan memutuskan untuk berjalan lagi menyusuri kota demi mendapatkan emas berharga di dunia ini.(*)


2024

Komentar

Tulisan Favorit Pembaca

Mengenal Tari Topeng Cirebon, Sejarah, Jenis, dan Filosofi yang Terkandung dari Keindahannya, Silakan Disimak!

5 Cakupan Tindak KDRT dan Akibat yang Bisa Terjadi, Pasutri Wajib Tahu!

Mari Berkenalan dengan Gurita Teleskop, Penghuni Laut Dalam!

Kue Kontol Sapi, Makanan Unik Khas Cilegon

Batu Hitam yang Terluka