Inilah
![]() |
| Ilustrasi | Pexels.com/Jan van der Wolf |
Entah karena apa, malam ini kubuka kembali lembaran kertas yang tertulis namamu. Aku termenung seperti ada jarum yang menusuk ke dalam hati ini ketika membaca untaian kalimat perpisahan.
Sungguh tak adil, kataku pelan ketika kalimat itu berhasil masuk ke dalam pikiran. Salah satu keindahan yang aku harapkan di dunia ini tampak hilang. Kemudian, aku pun merasa retak yang menjalani tubuh ini; aku lemah!
Di lembar terakhir kertas ini, kutuliskan kembali namamu dengan sangat indah lalu diarsir dengan sedemikian rupa untuk menandakan semua ini tak harus dihapus. Bahkan, tulisan ini sudah seperti lukisan yang berada di kanvas dengan arsiran yang pernah kau buat itu.
Aku tersenyum sebentar, tapi hati ini sudah selayaknya seperti kapal kosong yang tak ada isinya. Dan semua itu sudah seperti mau tenggelam dalam lautan yang bernama galau. Aku berbohong dengan perasaan. Aku pun bersembunyi di balik senyum yang sudah tak karuan ini!
Di manakah dirimu? Aku sering bertanya seperti itu di kala lembar demi lembar ini kubuka kembali. Bahkan, meja kerja yang saban hari dipakai ini sudah selayaknya kapal pecah yang sulit untuk dibetulkan kembali. Aku retak dengan semua rasa yang menjalar ke tubuh ini.
Di sini, aku hanya bisa menuliskan setiap langkah demi langkah yang pernah kita lalu, kertas terakhir yang akan menjadi saksi cinta ini masih ada. Ya, masih ada untuk dirimu yang jauh di sana! Sungguh, bolehkah kutempelkan kertas ini di papan pengumuman agar kau tahu, hati ini selalu utuh untuk dirimu!
Kemudian, aku pun hanya bisa menghitung jarak yang saban hari semakin menjauh. Aku tak mengerti dengan semua yang dirasakan. Jikalau, dideskripsikan lewat puisi atau cerpen yang indah pun sepertinya aku tak mampu untuk menuliskan keindahan dan kecantikanmu yang mendobrak hati ini.
Sekarang, aku benar-benar retak seperti bangunan yang mau ambruk dan beharap segara diperbaiki oleh dirimu yang mengirimkan kabar atau sapaan, hai saja! Aku terbenam dalam lautan yang bernama galau sampai hidup ini serasa linglung untuk dijalaninya.
Berjalan. Terdiam. Merenung. Apa yang harus aku lakukan di kala hati dan pikiran ini selalu ingat tentang dirimu? Perjalanan yang retak. Berdiam pun terasa retak. Merenung pun sangat retak. Semua hal yang aku alami ini sangat retak untuk bisa berdiri kembali layaknya orang-orang yang saling melemparkan senyum di pagi harinya.
Aku selalu berpikir di luar batas yang wajar sampai tubuh ini remuk seperti robot yang kehabisan baterai. Aku pun terlena. Aku pun sangat bodoh di kala mendung bergelayut manja, angin menusuk masuk ke celah-celah kemeja, dan hati ini malah selalu mengharapkan dirimu hadir di depan mata.
Sungguh bodoh! Sungguh sangat sulit untuk dideskripsikan melalui logika yang berjalan. Aku benar-benar tenggelam dengan perasaan yang terasa sulit untuk berenang kembali ke labuan cintamu. Sungguh, wajah ini malah menciptakan danau yang tak indah untuk dilihatnya.
Tak ada lagi yang bisa aku tuliskan di kala bulan tampak indah menggantung di sana, aku menghela napas panjang lalu menuliskan satu hal yang bermakna cinta. Ya, aku tuliskan kata cinta yang dalam untukmu; wanita yang amat kurindukan hadir di sisi ini; wanita yang ingin kujadikan pelengkap hati ini.
Dalam dekapnya lara, kutahan semua keretakan yang menggerogoti jiwa ini dengan sangat kuat. Aku percaya jikalau tubuh ini akan seperti biasa lagi; kuat; tetap semangat untuk menjalani hidup yang penuh warna lagi. Bahkan, aku berharap cinta seorang wanitalah yang akan menjadi obat di kala galau; sakit; cemas dan menjadikan aku lebih baik lagi!(*)
2026
Komentar
Posting Komentar