Postingan Terbaru

Di Malam Ini

Ilustrasi | Pexels.com/Padli Pradana


Izinkanlah kupeluk namamu di antara bulan yang masih menggantung di langit sampai aku merasa penuh warna. Kemudian, izinkanlah kugenggam suaramu dalam alunan bait-bait yang merdu meresap ke dalam kalbu ini.

"Semuanya akan seperti bintang yang jatuh ke tanganmu," ucapmu di kala kita duduk di waktu malam.

Aku mengerutkan kening ketika kalimat itu terdengar dan tenggorokan ini pun malah seperti ada yang mengganjal.

"Kenapa?" tanyamu terasa kebingungan, "ada masalah, kah?" lanjutmu sambil menatapku.

Di sini, aku seperti menanamkan luka di kala kau terus-menerus mengeluarkan kata yang sulit dipahami secara seksama. Aku menggeleng-gelengkan kepala, sedangkan kau malah melemparkan senyum yang menghujam dalam dada.

"Kenapa diam aja, sih?"—kau pun memegang tangan  ini—"kalau ada apa-apa, bilang saja!" tegasmu.

Kalimat itu seperti hujan di tanah tandus membangkitkan harapan untuk subur kembali. Aku terdiam. Aku pun memandang wajahmu yang tampak sekali bercahaya hingga membuat mata ini sulit berkedip lagi. Entahlah ....

Dalam kalimat-kalimat tanya yang kau tanyakan, aku mulai berpikir sehingga pikiran ini loncat keluar untuk mencari kata-kata untuk menjawabnya. Bahkan, dalam hati yang selemah seperti kapas pun aku masih saja sulit untuk bisa menerima pertanyaan-pertanyaan klise itu.

Entah karena apa, waktu malam pun terasa berat ketika bintang-bintang terus ingin kugendong dengan tangan telanjang. Aku terdiam sebentar. Aku memikirkan. Aku pun melangkahkan kaki untuk menjauh darimu agar hati ini bisa menerima semua yang kau tanyakan itu.

"Kamu, marah padaku?"—kau pun berjalan mendekatiku—"kamu, marah padaku?" tanyamu lagi yang memborbardir telinga ini.

Deg!

"Semua itu tak harus dijawab karena sudah bisa terlihat seperti bintang yang jatuh ke tangan ini," kataku dengan nada pelan yang mungkin saja terdengar tak jelas olehmu.

"Apa?" Kau pun terlihat pura-pura tak tahu arti dari kalimatku itu.

"Ya, semuanya sudah tak seindah lagi seperti dulu kala," ucapku dengan santai.

"Oh, okay seperti bintang yang tak bisa terlihat indah di langit sana!" Kau pun menunjuk langit yang berwarna hitam itu.

Aku pun menganggukkan kepala tanda iya dan kau pun malah kembali lagi ke tempat duduk yang semula kita tempati itu.

Di sinilah, aku harus menangkap semua rasa yang terkandung dalam hati dengan lapang dada. Aku pun harus mampu untuk mendeskripsikan setiap gerak-gerik yang kau lakukan. Kemudian, izinkanlah aku untuk mengingatmu dalam diam.

Mungkin saja, kau tak akan paham kenapa aku berdiam terus ketika pertanyaan itu masuk ke telinga ini. Aku lemah! Aku pun sulit untuk menjawabnya karena ada rasa yang sulit untuk dideskripsikan di dalam hati ini.

Sekarang, akan kupeluk namamu di malam ini, di hadapanmu dengan penuh cinta untuk terakhir kalinya. Aku kalah! Ya, kalah oleh alunan suara penuh cinta dari orang lain. Aku pun pamit dari semua cinta yang dirasa ini!(*)


2026

Komentar

Tulisan Favorit Pembaca

Mengenal Tari Topeng Cirebon, Sejarah, Jenis, dan Filosofi yang Terkandung dari Keindahannya, Silakan Disimak!

5 Cakupan Tindak KDRT dan Akibat yang Bisa Terjadi, Pasutri Wajib Tahu!

Mari Berkenalan dengan Gurita Teleskop, Penghuni Laut Dalam!

Kue Kontol Sapi, Makanan Unik Khas Cilegon

Batu Hitam yang Terluka