Di Taman Kota
![]() |
| Ilustrasi | Pexels.com/Vera Arsic |
"Semuanya akan berakhir di sini," katamu yang berhasil menyayat hati ini, "kita putuskan saja di sini untuk selamanya," lanjutmu dengan tatapan yang serius.
Aku menggelengkan kepala karena kalimat itu seperti bom waktu yang keluar darimu. Kemudian, tanganku merasa dingin seperti es yang sulit untuk mencair.
"Aku tak bisa meneruskan kasih ini!" tegasmu yang terasa mantap ketika mengeluarkan kalimat semacam itu.
Entah karena apa, batin ini malah hancur, tenggorokan ini pun seperti ada yang mengganjal, aku terdiam seperti angka lima di balik sudut yang paling sunyi ini.
"Kenapa kamu tak bicara?"—kamu pun mendekatiku—"kenapa? Apakah kamu merasa salah dengan cinta yang pernah kita ukir ini?" Kamu pun terus-menerus memborbardirku dengan pertanyaan semacam itu.
"Aku lebih baik diam daripada harus meladeni kamu dengan umpatan-umpatan yang mungkin saja bisa keluar dari mulut ini," kataku sambil menatap tajam wajahmu, kamu pun tertunduk.
"Seperti itu, kah?"
Aku pun menganggukkan kepala tanda iya, lalu kamu pun berjalan untuk menjauhiku dengan tatapan gerak seperti kebebasan dari cinta ini!
Di taman kota yang dulu kulukiskan ini menjadi salah satu marabahaya untuk hati; untuk jiwa. Aku tenggelam dalam lautan yang bernama perasaan sehingga rasa cinta ini sudah punah oleh langkah-langkah penuh dusta!
Aku rasa keindahan yang pernah kita ciptakan itu cukup usai di sini—terkubur oleh penuh kedustaan yang menggunung. Lukisan yang pernah kita lukis berdua pun sudah musnah tergerus oleh air-air yang turun dari kedua bola mata ini.
Kini, aku benar-benar sendirian di taman kota ini setelah kamu pergi tanpa pamit yang keluar dari mulutmu itu. Aku menggelengkan kepala. Aku menahan saliva. Aku pun tergerus oleh cinta yang harus hilang tak bertepi ini.
"Ini begitu menyakitkan," kataku pelan yang mungkin saja tak terdengar oleh siapa pun.
Hati ini benar-benar menjerit merayapi langit yang ingin sekali kukeluarkan dalam alunan-alunan sajak penuh luka. Namun, aku menyadari bahwa semua itu tak semudah membalikkan telapak tangan; aku lemah!
Dalam bayang-bayang sepi yang menyerang dalam kalbu, aku meratapi satu hal di taman kota ini, yakni cinta. Cinta yang tak pernah benar-benar ada untukku! Cinta yang hanya menjadikanku seperti layangan putus! Cinta juga yang menjadikanku penuh kesuraman!
Sebelumnya, aku terlena oleh deretan kata-kata yang keluar dari mulutmu—begitu manis—hingga masuk ke sanubari. Kemudian, aku pun tergerus oleh bunga-bunga yang kamu tanam di ruang hati ini—awalnya tampak mekar, lalu layu dengan beriringnya waktu.
Keindahan yang dulu kuharapkan pun berakhir hancur seperti gelas yang dilemparkan ke tembok, sulit untuk disatukan lagi. Aku bertanya pada langit, harus dengan cara apa menyembuhkan luka ini? Namun, jawaban-jawaban yang kuinginkan pun tak kunjung kuterima, aku harus bagaimana?
Sebelum kamu benar-benar pergi, ada satu kata yang merobek dalam hati ini, jangan ganggu aku lagi! Kata seperti itulah yang sulit aku terima dengan lapang, entahlah! Semua rasa yang berkecamuk ini malah menjadi gunung yang ingin sekali dilukiskan dalam naratif jelas untukmu!
Di taman kota ini, aku melangitkan harap seperti burung yang ingin kembali ke dalam sangkar. Kemudian, aku pun tak mau untuk terus-menerus menanggung kesedihan yang bergelayut manja di dalam hati ini. Hmm. Aku harus melepaskan dirimu dengan lapang!(*)
2026



Komentar
Posting Komentar