Kupu-Kupu
![]() |
| Ilustrasi | Pexels.com/Fabiola Ulate |
Suara bising mengiringi langkahku di kala mendaki kenyamanan yang diimpikan. Kemudian, sepucuk mawar pun masih di tangan dan ingin sekali kupersembahkan untuk dirimu; wanita yang paling cantik.
Sepucuk mawar ini masih utuh dengan harum yang khasnya berhasil membangkitkan asa; mendekat padamu. Sampai, aku tak kuat seperti ingin meledak untuk mencurahkan isi hati—aku sayang kamu!
Namun, aku seringkali terdiam di kala orang-orang selalu berbicara tentang cinta. Ya, cinta yang bermekaran di halaman hati yang selalu diceritakan dengan begitu indah. Aku mau! Ya, aku pun mau untuk menuliskan kisah itu di halaman hati yang kosong ini dengan begitu indah.
Di sini, kuperhatikan betul sepucuk mawar ini akan cocok dipegang olehmu. Cantikmu. Manismu. Semua itu akan menjadi gambaran bahwa kamulah wanita yang paling sempurna di hidup ini!
Di perjalanan yang amat lelah, aku selalu mengingatmu bak sinyal-sinyal yang terus ada di dalam pikiran ini. Aku ingin bertemu dan memandang dirimu sambil berkata, aku sayang kamu, kamulah wanitaku, kamulah yang pertama kali di dalam hati ini.
Namun, perjalanan ya perjalanan semua kejadian itu tak bisa dipastikan bisa terjadi. Aku merenung sambil duduk di waktu yang kian memukulku untuk semangat kembali. Entahlah! Hal semacam apa ini yang merasuki isi hati sehingga aku selalu mengingatmu!
Pernahkah kau bertanya tentang lelaki yang menahan cintanya? Mungkin saja kau akan terdiam ketika mendengarkan pertanyaan semacam itu, karena bulan dan matahari pun tak akan bisa bersatu untuk menciptakan jawabannya.
Di sini, aku pun tak lepas untuk menuliskan tentangmu; indahmu; cantikmu yang sedang dirasakan di dalam hati. Namun, Abah pun sering bilang, semua itu sudah ada yang mengatur jadi jangan terlalu memaksakan keinginanmu!
Aku benar-benar terpukul oleh perkataan Abah itu seperti ada batu yang mengganjal di tenggorokan ini, aku tak bisa menjawabnya. Dalam keheningan ini, aku hanya bisa melukiskan keindahanmu yang terpatri di dalam pikiran ini dan tak lupa kugoreskan sepucuk mawar di jilbab yang kugambarkan itu.
Sepucuk mawar ini benar-benar menjadi candu untuk selalu mengingatkanku akan hadirmu yang kian sulit untuk bertepi. Ya, aku pun sudah seperti layang-layang yang terombang-ambing karena selalu mencari dirimu; ingin tahu tentang dirimu!
Dalam kegamangan ini, aku ingin melihat kau bahagia sehingga bisa membuatku bahagia juga dan sebaliknya. Entahlah, aku selalu mengingatmu dalam saban hari yang selalu mengelilingi pikiran ini, bahkan sepenuhnya hati ini selalu ingin dekat denganmu!
Namun, aku pun tak bisa memaksakan dan harus menahan semua hal yang teramat diinginkan ini. Aku mengalah demi kebahagiaanmu. Aku pun terdiam agar kau tidak merasa risih akan hadirku. Aku pun hanya bisa melihatmu di sini; di balik-balik penuh cinta yang harus kusembunyikan ini!
Sepucuk mawar ini akan kujadikan sajak-sajak keindahan yang mungkin saja bisa menjadi tanda cinta untuk dibaca di kemudian harinya. Aku mengingat. Aku pun sulit untuk mendeskripsikan kau seperti apa lagi; aku pun ingin selalu dekat denganmu!(*)
2026
Komentar
Posting Komentar