A ku sangat bahagia di saat kita duduk berdua di tembok pembatas Waduk Darma: memandang air, merasakan oksigen yang terasa begitu segar. Kadang, kita saling pandang. Sampai, kau terpaku di saat sebuah dongeng aku bacakan di sampingmu. Ada apa? Sebuah pertanyaan dilemparkan olehku, sedangkan kau hanya menjawab, "Aku terpaku mendengar semua dongeng yang dibacakan tadi." Sungguh, ada rasa malu di hatiku. Dan tidak percaya, sebuah dongeng asal saja yang keluar dari pikiranku bisa sampai membuatmu terpaku. Sungguh, tidak menyangka. "Lihat, tuh!" Kau menggerakkan tangan kanan ketika dongeng dariku sudah selesai. "Apa?" tanyaku. Kepala ini kuputarkan ke arah lelaki yang ditunjuk olehmu. Mungkin, seorang lelaki yang berada di tongkang itu sedang menjaring ikan. Sekarang, kau yang mengeluarkan suara lebih banyak dariku. Kau berbicara tentang lelaki tua yang begitu kuatnya meskipun sinar mentari menggorengnya sampai kulitnya terlihat hitam dan mungkin saja, kutu-k...