Postingan Terbaru

Di Malam Ini

Gambar
Ilustrasi | Pexels.com/Padli Pradana Izinkanlah kupeluk namamu di antara bulan yang masih menggantung di langit sampai aku merasa penuh warna. Kemudian, izinkanlah kugenggam suaramu dalam alunan bait-bait yang merdu meresap ke dalam kalbu ini. "Semuanya akan seperti bintang yang jatuh ke tanganmu," ucapmu di kala kita duduk di waktu malam. Aku mengerutkan kening ketika kalimat itu terdengar dan tenggorokan ini pun malah seperti ada yang mengganjal. "Kenapa?" tanyamu terasa kebingungan, "ada masalah, kah?" lanjutmu sambil menatapku. Di sini, aku seperti menanamkan luka di kala kau terus-menerus mengeluarkan kata yang sulit dipahami secara seksama. Aku menggeleng-gelengkan kepala, sedangkan kau malah melemparkan senyum yang menghujam dalam dada. "Kenapa diam aja, sih?"—kau pun memegang tangan  ini—"kalau ada apa-apa, bilang saja!" tegasmu. Kalimat itu seperti hujan di tanah tandus membangkitkan harapan untuk subur kembali. Aku terd...

Cara Menunjukkan Emosi dalam Cerita

 



Tentu, dalam menulis cerita. Penulis sering susah memunculkan emosi dalam ceritanya tanpa membuat karakternya sadar diri. Emosi sangat penting untuk membuat karakternya terasa nyata. Namun, dalam menuliskan semua itu tak gampang. Sering banget penulis merasa kesusahan untuk mendeskripsikan karakternya, sehingga menyebabkan terputus dan tidak terasa seperti perasaan karakter, tetapi seperti penulis memberi tahu kepada pembaca, seperti inilah perasaan karakter yang ditulisnya.


Ini ada beberapa cara yang menunjukan emosi tanpa harus ada yang keluar dari karakter:

Ayo kita belajar sama-sama!


1. Gunakan gejala-gejala fisik yang dialami tokoh yang kamu tulis


Emosi memacu reaksi fisik ini adalah petunjuk yang bisa digunakan pembaca untuk melihat perasaan karakter; jantung berdebar, jemari terasa membeku dan mati rasa, gunakan juga refleks seperti pipi memanas. 


* Mereka tertawa terbahak-bahak. Dia pun berpaling dengan wajah yang seperti terbakar dan jemari terasa sangat dingin. 


Alih-alih: Dia berpaling, wajahnya memerah karena malu.


2. Gunakan pikiran dan dialog untuk memperlihatkan emosi


Emosi dapat memacu respon mental maupun verbal. Penulis bisa menulisnya dalam momen refleksi diri si tokoh (ditulis dengan huruf miring) misalnya Dasar brengsek! yang diucapkan dengan volume pelan dan cepat dapat menimbulkan emosi. Namun, sama saja dengan mengerutkan kening dan terasa lebih natural.


* Dasar brengsek! "Permisi, tadi bilang apa?"


Daripada: Dia mengerutkan kening karena laki-laki itu sangat brengsek.


3. Gunakan subteks untuk memperlihatkan emosi yang tidak ingin diperlihatkan


Sebagian penulis sering memakai bagian yang ini. Sebab, memakai bagian yang ini. Terkadang, apa yang tidak diucapkan karakter, malah akan terlihat emosinya. Subteks juga dapat menimbulkan konflik dalam sebuah adegan dan bisa menaikkan ketegangan. 


* "Tentu saja kau boleh tinggal," katanya, sambil menyobek-nyobek tisu di tangannya menjadi potongan-potongan kecil.


Daripada: Dia tidak menjawab. Walau, dirinya tahu Joni ingin dia mengatakan iya.


4. Gunakan indra eksternal untuk memperkuat emosi


Emosi yang tinggi juga dapat meningkatkan indra, maka ini akan jadi persepsi yang lebih kuat. Ketakutan sering kali diperlihatkan dengan bagaimana perut atau tenggorokan bereaksi. Namun, bagaimana dengan suara atau aroma? Tentu, itu juga sangat bisa untuk memunculkan rasa ketakutan seperti telinga berdenging atau terdengar jauh dan terendam. Aroma juga bisa memunculkan emosi yang ingin penulis perlihatkan. 


* Ia tak hanya mendengar suara langkah di belakangnya—bau minyak wangi murah, bir yang sudah basi, dan keputusasaan yang merayap semakin dekat, menambah rasa jerinya. Dia pun mempercepat langkahnya. 


Alih-alih: Rasa takut membuatnya mempercepat langkah. Seseorang mengikutinya. 


5. Gunakan majas


Metafora, simile, dan jenis majas yang lain bisa efektif untuk memperlihatkan emosi, tanpa harus menggunakan kata yang menunjukkan emosi secara spesifik. 


* Dunia meluruh, warna-warna meluntur memperlihatkan sosok dirinya yang semakin jelas di bawah gemilang cahaya mentari. 


Alih-alih: Dia sangat tampan, hingga aku tak bisa memalingkan mata. 


Intinya dari semua ini! Jangan hanya mengatakan bagaimana perasaan tokoh—buatlah pembaca merasakannya juga. Jika, penulis bisa menangkap emosi maka pembaca pun akan bisa menangkapnya.[]

Komentar

Tulisan Favorit Pembaca

Mengenal Tari Topeng Cirebon, Sejarah, Jenis, dan Filosofi yang Terkandung dari Keindahannya, Silakan Disimak!

5 Cakupan Tindak KDRT dan Akibat yang Bisa Terjadi, Pasutri Wajib Tahu!

Mari Berkenalan dengan Gurita Teleskop, Penghuni Laut Dalam!

Kue Kontol Sapi, Makanan Unik Khas Cilegon

Batu Hitam yang Terluka