Postingan Terbaru

Proses Sosial dan Kecintaan yang Tak Pernah Bertahta!

Gambar
Ilustrasi | Pexels.com/Rakicevic Nenad Paling simpel dari pemahaman proses sosial ini ialah cara kita ketika berinteraksi dengan orang lain, baik itu keluarga, teman, ataupun kolega. Nah, hal semacam itu pun bisa termasuk ke dalam kehidupan sehari-hari yang seringkali kita terjebak dalam rutinitas yang monoton. Namun dalam hal itu, ada yang namanya proses kecintaan yang bisa berkesinambungan dengan proses sosial untuk membangun hubungan yang sehat dan bahagia. Proses sosial pun bisa menjadi salah satu proses yang terus berlangsung dan berkembang seiringnya waktu. Oleh karena itu, proses sosial ini jangan sampai dilupakan karena di sini bukan hanya untuk berinteraksi maupun berbicara saja, tapi juga tentang mendengarkan, memahami, dan menghargai orang lain. Kemudian, ada satu kata yang menarik di sini ialah kecintaan yang di mana dalam sisi lain ialah perasaan yang sangat kuat dan mendalam yang kita rasakan terhadap seseorang ataupun sesuatu. Hal semacam itu pun bisa termasuk ke ...

Cara Menunjukkan Emosi dalam Cerita

 



Tentu, dalam menulis cerita. Penulis sering susah memunculkan emosi dalam ceritanya tanpa membuat karakternya sadar diri. Emosi sangat penting untuk membuat karakternya terasa nyata. Namun, dalam menuliskan semua itu tak gampang. Sering banget penulis merasa kesusahan untuk mendeskripsikan karakternya, sehingga menyebabkan terputus dan tidak terasa seperti perasaan karakter, tetapi seperti penulis memberi tahu kepada pembaca, seperti inilah perasaan karakter yang ditulisnya.


Ini ada beberapa cara yang menunjukan emosi tanpa harus ada yang keluar dari karakter:

Ayo kita belajar sama-sama!


1. Gunakan gejala-gejala fisik yang dialami tokoh yang kamu tulis


Emosi memacu reaksi fisik ini adalah petunjuk yang bisa digunakan pembaca untuk melihat perasaan karakter; jantung berdebar, jemari terasa membeku dan mati rasa, gunakan juga refleks seperti pipi memanas. 


* Mereka tertawa terbahak-bahak. Dia pun berpaling dengan wajah yang seperti terbakar dan jemari terasa sangat dingin. 


Alih-alih: Dia berpaling, wajahnya memerah karena malu.


2. Gunakan pikiran dan dialog untuk memperlihatkan emosi


Emosi dapat memacu respon mental maupun verbal. Penulis bisa menulisnya dalam momen refleksi diri si tokoh (ditulis dengan huruf miring) misalnya Dasar brengsek! yang diucapkan dengan volume pelan dan cepat dapat menimbulkan emosi. Namun, sama saja dengan mengerutkan kening dan terasa lebih natural.


* Dasar brengsek! "Permisi, tadi bilang apa?"


Daripada: Dia mengerutkan kening karena laki-laki itu sangat brengsek.


3. Gunakan subteks untuk memperlihatkan emosi yang tidak ingin diperlihatkan


Sebagian penulis sering memakai bagian yang ini. Sebab, memakai bagian yang ini. Terkadang, apa yang tidak diucapkan karakter, malah akan terlihat emosinya. Subteks juga dapat menimbulkan konflik dalam sebuah adegan dan bisa menaikkan ketegangan. 


* "Tentu saja kau boleh tinggal," katanya, sambil menyobek-nyobek tisu di tangannya menjadi potongan-potongan kecil.


Daripada: Dia tidak menjawab. Walau, dirinya tahu Joni ingin dia mengatakan iya.


4. Gunakan indra eksternal untuk memperkuat emosi


Emosi yang tinggi juga dapat meningkatkan indra, maka ini akan jadi persepsi yang lebih kuat. Ketakutan sering kali diperlihatkan dengan bagaimana perut atau tenggorokan bereaksi. Namun, bagaimana dengan suara atau aroma? Tentu, itu juga sangat bisa untuk memunculkan rasa ketakutan seperti telinga berdenging atau terdengar jauh dan terendam. Aroma juga bisa memunculkan emosi yang ingin penulis perlihatkan. 


* Ia tak hanya mendengar suara langkah di belakangnya—bau minyak wangi murah, bir yang sudah basi, dan keputusasaan yang merayap semakin dekat, menambah rasa jerinya. Dia pun mempercepat langkahnya. 


Alih-alih: Rasa takut membuatnya mempercepat langkah. Seseorang mengikutinya. 


5. Gunakan majas


Metafora, simile, dan jenis majas yang lain bisa efektif untuk memperlihatkan emosi, tanpa harus menggunakan kata yang menunjukkan emosi secara spesifik. 


* Dunia meluruh, warna-warna meluntur memperlihatkan sosok dirinya yang semakin jelas di bawah gemilang cahaya mentari. 


Alih-alih: Dia sangat tampan, hingga aku tak bisa memalingkan mata. 


Intinya dari semua ini! Jangan hanya mengatakan bagaimana perasaan tokoh—buatlah pembaca merasakannya juga. Jika, penulis bisa menangkap emosi maka pembaca pun akan bisa menangkapnya.[]

Komentar

Tulisan Favorit Pembaca

Mengenal Tari Topeng Cirebon, Sejarah, Jenis, dan Filosofi yang Terkandung dari Keindahannya, Silakan Disimak!

5 Cakupan Tindak KDRT dan Akibat yang Bisa Terjadi, Pasutri Wajib Tahu!

Mari Berkenalan dengan Gurita Teleskop, Penghuni Laut Dalam!

Kue Kontol Sapi, Makanan Unik Khas Cilegon

Batu Hitam yang Terluka