Postingan Terbaru

Di Malam Ini

Gambar
Ilustrasi | Pexels.com/Padli Pradana Izinkanlah kupeluk namamu di antara bulan yang masih menggantung di langit sampai aku merasa penuh warna. Kemudian, izinkanlah kugenggam suaramu dalam alunan bait-bait yang merdu meresap ke dalam kalbu ini. "Semuanya akan seperti bintang yang jatuh ke tanganmu," ucapmu di kala kita duduk di waktu malam. Aku mengerutkan kening ketika kalimat itu terdengar dan tenggorokan ini pun malah seperti ada yang mengganjal. "Kenapa?" tanyamu terasa kebingungan, "ada masalah, kah?" lanjutmu sambil menatapku. Di sini, aku seperti menanamkan luka di kala kau terus-menerus mengeluarkan kata yang sulit dipahami secara seksama. Aku menggeleng-gelengkan kepala, sedangkan kau malah melemparkan senyum yang menghujam dalam dada. "Kenapa diam aja, sih?"—kau pun memegang tangan  ini—"kalau ada apa-apa, bilang saja!" tegasmu. Kalimat itu seperti hujan di tanah tandus membangkitkan harapan untuk subur kembali. Aku terd...

Kecermatan Pemilihan Kata


Alangkah lebih baik penulis itu bisa memilih kata dengan cermat. Kenapa harus begitu? Supaya tidak mendua dan semakin hemat. Kecermatan bagaimana, sih? Kecermatan dalam pemilihan kata berkaitan dengan memilih kata yang benar-benar diperlukan untuk mengungkapkan gagasan tertentu. Para penulis juga harus bisa mengetahui dengan yang namanya ekonomi bahasa dan menghindari penggunaan kata-kata yang mengakibatkan kemubaziran.


Ekonomi bahasa itu apa, sih? Ekonomi bahasa adalah kehematan dalam penggunaan unsur-unsur kebahasaan. Dengan demikian kalau ada kata yang lebih singkat, kita tidak perlu menggunakan yang lebih panjang. Misalnya:

  • disebabkan oleh fakta ➡ karena
  • mengajukan saran ➡ menyarankan
  • melakukan kunjungan ➡ berkunjung
  • mengeluarkan pemberitahuan ➡ memberitahukan
  • meninggalkan kesan yang dalam ➡ mengesankan


Dengan memahami kata-kata yang mubazir, pemakai bahasa dapat menghindari penggunaan kata dalam konteks tertentu. Sehubungan dengan hal itu, harus kita pahami adanya beberapa penyebab kemubaziran kata, antara lain:

  • Penggunaan kata yang bermakna jamak secara ganda
  • Penggunaan kata yang mempunyai kemiripan makna atau fungsi secara ganda
  • Penggunaan kata yang bermakna 'saling' secara ganda
  • Penggunaan kata yang tidak sesuai konteksnya 


📖 Penggunaan Kata yang Bermakna Jamak Secara Ganda


Penggunaan kata yang bermakna jamak, terutama jika dilakukan secara ganda, dapat menyebabkan kemubaziran. Contohnya:

  • 'Sejumlah desa-desa' yang dilalui Sungai Citarum dilanda banjir



Kata 'sejumlah' dalam bahasa Indonesia sebenarnya sudah jamak. Begitu juga dengan pengualangan desa-desa. Oleh karena itu, jika digunakan secara bersama-sama, salah satunya akan mubazir. Maka, lebih baik seperti ini:

  • Sejumlah desa yang dilalui Sungai Citarum dilanda banjir
  • Desa-desa yang dilalui Sungai Citarum dilanda banjir


📖 Penggunaan Kata yang Bersinonim


Penggunaan kata yang bersinonim atau kata yang mempunyai kemiripan makna secara ganda juga dapat menyebabkan kemubaziran. Contohnya:

  • Kita harus bekerja keras 'agar supaya' dapat mencapai cita-cita


Kata agar dan supaya mempunyai makna dan fungsi yang bermiripan, yakni menyatakan 'tujuan' atau 'harapan'. Di samping itu, fungsinya pun sama yaitu sebagai ungkapan atau kata hubung. Oleh karena itu, jika digunakan secara bersamaan akan terasa mubazir, kata-kata tersebut bisa digunakan salah satu saja. Misalnya:

  • Kita harus bekerja keras agar dapat mencapai cita-cita
  • Kita harus bekerja keras supaya dapat mencapai cita-cita


Beberapa kata bersinonim yang dapat menyebabkan kemubaziran dapat diperhatikan pada contoh di bawah ini!


🌕 Mubazir

  • sangat ... sekali
  • hanya ... saja
  • demi untuk
  • seperti misalnya
  • contohnya seperti
  • lalu kemudian
  • kalau seandainya


🌕 Tidak Mubazir

  • sangat atau sekali 
  • hanya atau saja
  • demi atau untuk
  • seperti atau misalnya
  • contohnya atau seperti
  • lalu atau kemudian
  • kalau atau seandainya


📖 Penggunaan Kata yang Bermakna 'Saling'


Makna kesalingan yang dimaksud di sini adalah makna yang menyatakan tindakan 'berbalasan'. Jadi, pelaku tindakan itu seolah-olah ada dua orang atau lebih. Namun, kalau tindakan itu hanya dilakukan oleh satu orang, maka itu tidak tepat dikatakan tindakan berbalasan. Misalnya:

  • Ia berjalan 'bergandengan' 


Tindakan bergandengan, dari segi pengalaman tidak mungkin hanya dilakukan oleh satu orang karena tindakan itu, paling tidak melibatkan orang yang menggandeng  dan orang yang digandeng. Maka, kalau bergandengan itu tidak cermat. Sejalan dengan itu, subjek 'Ia' juga yang bermakna tunggal harus diganti dengan 'mereka', misalnya, yang bermakna jamak, agar makna tindakan berbalasan itu menjadi tepat. Kecuali dengan menyertai dengan keterangan penyerta. Misalnya:

  • Mereka berjalan bergandengan
  • Ia berjalan bergandengan dengan adiknya



📖 Penggunaan Kata yang Tidak Sesuai Konteks

Kemubaziran berikutnya lebih banyak ditentukan oleh konteks pemakainya di dalam kalimat. Contohnya:

  • Pertempuran kemarin membahas 'tentang' masalah disiplin pegawai
  • Maksud 'daripada' kedatangan saya ke sini adalah untuk bersilaturahmi

* Kursi ini terbuat 'daripada' kayu


Kata tentang dan daripada sebenarnya mubazir karena—berdasarkan konteksnya—kehadiran kata itu pada kalimat di atas tidak diperlukan dan boleh dilepaskan. Sementara itu, kata daripada dalam kalimat (*) tidak tepat karena itu bermakna perbandingan, sedangkan konteks kalimat itu memerlukan perbandingan. Kata yang diperlukan dalam kalimat itu adalah kata yang bermakna 'asal'. Makna itu terkandung dalam kata 'dari' bukan daripada. Oleh karena itu, makna daripada harus digantikan dengan kata dari. Misalnya:

  • Pertemuan kemarin membahas masalah disiplin pegawai
  • Maksud kedatangan saya ke sini adalah untuk bersilaturahmi

* Kursi ini terbuat 'dari' kayu


Sebagaimana telah disinggung di atas kata 'daripada' hanya tepat jika digunakan untuk perbandingan. Contohnya: 

  • Rumah Ibu Ani lebih tinggi daripada rumah Bapak Rhoma


Sekian


Sumber: 

- Bentuk dan Pemilihan Kata; Drs. Mustakim,  M.Hum.


Komentar

Tulisan Favorit Pembaca

Mengenal Tari Topeng Cirebon, Sejarah, Jenis, dan Filosofi yang Terkandung dari Keindahannya, Silakan Disimak!

5 Cakupan Tindak KDRT dan Akibat yang Bisa Terjadi, Pasutri Wajib Tahu!

Mari Berkenalan dengan Gurita Teleskop, Penghuni Laut Dalam!

Kue Kontol Sapi, Makanan Unik Khas Cilegon

Batu Hitam yang Terluka