Kupu-Kupu
Setelah kepergianmu yang tanpa kabar, saya sangat sulit untuk merasakan cinta lagi. Entahlah! Rasa yang namanya cinta maupun dicintai itu seperti sudah pergi dari hati ini. Saya merenung untuk memperlebarkan jarak pikiran tentang kehidupan ini.
Ada hal yang begitu hilang seperti burung merpati yang tak masuk ke dalam kandang lagi. Saya menyeka keringat karena efek kehidupan yang melelahkan ini. Kemudian, duduk di depan toko sepatu yang sudah tutup, sedangkan jalanan di depan pun masih sangat ramai.
"Pernahkah kau, merasakan jatuh cinta?" Tiba-tiba saja Alex bertanya kepada saya.
Saya pun tersentak kaget lalu langsung memandang wajah Alex, sedangkan lelaki yang berusia 23 tahun itu malah menunduk seperti ketakutan.
"Pernah," jawab saya singkat.
"Apakah kau, masih mempunyai rasa cinta?" tanya Alex lagi masih sambil menunduk.
"Entahlah."
Kemudian, saya pun tak melemparkan kata lagi kepada Alex karena sangat malas untuk menjawab pertanyaan yang menurut batin ini ambigu.
Dalam keramaian lokasi, ada salah satu tempat yang sunyi dan sepi, yaitu hati. Bahkan, saya masih sulit untuk merasakan kembali apa itu cinta. Kemudian, saya pun hanya memandang kendaraan saja yang berlalu-lalang di depan mata.
Banyak juga orang yang bertanya perihal rasa cinta kepada saya. Namun, semua itu pun sangat sulit untuk dijawab. Bahkan, saya pun merasakan mati rasa dan tenggelam oleh duka yang tampak nyata di kehidupan ini.
Saya kehilangan seseorang yang dulu pernah dicintai begitu dalam. Saya kehilangan seseorang yang dulu sangat disayangi! Namun sekarang ini, semua itu malah menjadikan duka yang paling dalam. Saya menyendiri di sudut kota! Saya menyediri di kala kekacauan sedang melanda. Saya pun menyendiri ketika hati ini terluka!
Jika, orang lain bertanya lagi kepada saya tentang rasa cinta, maka mulut ini sangat malas untuk menjawabnya. Apalagi, pertanyaan itu keluar hanya spontanitas yang ditunjukkan sebagai pembuka percakapan, maka saya pun lebih malas lagi untuk menjawabnya.
***
Sudah tiga tahun, saya mengalami hal yang paling buruk ini. Sampai, saya sering merenungi kehidupan yang sulit dimengerti ini. Saya kecewa! Saya menahan air mata! Saya pun tenggelam oleh duka yang paling dalam!
"Aku tahu, kau itu masih sulit melupakan Alina, kan?" tanya Alex di kala malam tinggal setengah lagi.
Saya terdiam mematung di samping tiang beranda rumah, sedangkan Alex kembali bertanya, "Ayo, jawab! Bener, kan?"
Aneh! Sungguh, aneh walaupun pertanyaan itu sudah mengobrak-ngabrik dalam hati. Namun, jawaban untuk Alex pun masih sangat sulit keluar dari mulut ini.
"Jika, kau sulit untuk menjawabnya maka tak usah dijawab, lah!" Alex pun menegaskan dengan lantang.
Saya pun tertunduk lalu pikiran ini berputar seperti roda untuk berjalan. Kemudian, Alex pun mendekati saya hingga tepat berada di depan mata ini.
"Kau ini, kenapa takbisa menjawab?" tanya Alex sambil memegang pundak saya.
Saya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala saja, sedangkan Alex malah mengerutkan kening seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu.
Dalam kehidupan yang sungguh tak dimengerti, saya menangis di ruang-ruang duka terdalam. Kemudian, rasa cinta yang terus-menerus ditanyakan itu masih belum terasa di dalam jiwa ini. Saya benar-benar kehilangan arah untuk menemukan cinta kembali. Saya pun benar-benar mati rasa oleh keadaan di kehidupan ini.(*)
2023
Komentar
Posting Komentar