Inilah Beberapa Manfaat Buah Kesemek untuk Kesehatan Tubuh, Nomor 4 Bagus untuk Wanita!
![]() |
| Ilustrasi | Gemini AI |
Setelah bulan ke satu selesai dalam kalender Hijriah, suasana pagi semakin syahdu saja hingga daun-daun pun tampak enggan untuk berguguran. Namun, ada satu hal yang amat berbeda, anak-anak terlihat sangat nyaman bermain di halaman rumah.
"Kalian yang ngumpet, aku yang jaga, ya!" kata Sandi, anak yang mungkin usianya hampir sepuluh tahun kepada temannya.
Melihat pemandangan itu, aku jadi kembali lagi ke masa lampau yang di mana bermain petak umpet di jalanan, kebun, dan bekas-bekas gedung pencakar langit. Memori itu malah terbuka dengan berjalannya waktu yang kini aku melihat anak-anak bermain di depan mata.
"Ngumpet di mana, ya," desus Sista, anak perempuan yang paling terlihat imut dan kebingungan itu.
Aku pun hanya bisa duduk di sini, menikmati anak-anak yang sedang bermain di halaman rumah sambil ditemani lagu kemesraan. Mengenang di mana sebuah cinta itu masih ada. Menikmati. Namun, berakhir terluka kalau sesudah kenangan-kenangan itu keluar dari dalam pikiran.
"Bang, ayo kita maen!" Tiba-tiba saja Sandi mengajakku.
Aku tersenyum, lalu menjawab, "Nggaklah ...."
Secangkir kopi pun sudah dingin, kuminum secara perlahan-lahan sambil menikmati udara perkampungan yang masih asri ini. Namun, suasana di rumah ini sangat sendu; tak ada tawa yang menghiasi; tak ada lagi pelukan sayang yang bisa dirasakan. Kemudian, aku pun hanya bisa memandang bayang-bayang tentang kenangan yang pernah dirasakan ini.
"Kenapa masih duduk di sini, A?" tanya Mang Usep, pekerja yang ada di rumah, "Emang hari ini tak ngantor?" lanjutnya tampak penasaran.
"Nggak, Mang. Aku perlu istirahat, masa setiap hari harus bergelut dengan cash in and cash out doang!"
Mang Usep mengerutkan dahi, mungkin saja lelaki yang memakai topi itu tak ngerti atas apa yang aku sampaikan. Namun, biarlah! Biar Mang Usep tidak banyak tanya-tanya lagi.
Anak-anak terlihat semakin asyik saja bermain, berlari, mengumpet, namun masih untung mereka itu tidak mengumpet sambil bawa kabur uang negara. Suasana pun semakin terasa sendu, hati mendadak gundah gulana ketika lagu-lagu kemesraan itu semakin nyaring terdengar. Menerobos. Meresap. Membangkitkan asa yang dulu pernah dilukiskan pada hati terbuka.
Aku mencari cara agar semua kenangan ini bisa lari seperti anak-anak yang bermain di depan halaman. Kemudian, mengorek satu jalur ke dalam pikiran lalu mencoba mengeluarkan kata-kata yang ada di dalamnya. Namun, semua itu malah nihil karena yang keluar bukanlah kenangan, melainkan angka nol yang bulat menggelinding ke tanah.
Sit!!!
Semua hal itu manjadi teka-teki yang mana kenapa kenangan ini sangat sulit untuk keluar dari dalam kepala. Apakah sudah nyaman berada di sini? Ataukah kenangan ini tak ingin terhapus untuk selamanya? Aku pun menggelengkan kepala lalu menggaruk-garuk kepala yang tak gatal saja.
***
Di depan lukisan yang pernah aku lukis ini, langkah pikiran seperti menyeret kembali kepada keindahan panorama lingkungan. Namun, aku sendiri ketika melihat lukisan ini malah ingat kepada anak-anak yang berlarian menuju langit. Berteriak-teriak. Saling kerja sama, anak-anak itu pun berhasil mengambil matahari untuk dijadikan hidangan di waktu makan siang.
"Kita masak apa, nih?" tanya seorang anak wanita yang seperti menirukan kata-kata ibunya kalau di rumah.
"Nggak tau," jawab anak lelaki berbaju hitam dengan corak merah di kerahnya, "apa, ya?" Anak itu mengetuk-ngetuk kepala seperti sedang mengingat-ingat masakan yang sering dibuatkan ibunya.
"Ngapain kalian ngumpul di sini?" tanyaku sewaktu dulu ketika sesudah melukiskan ini di depan halaman rumah.
Anak-anak itu tampak kaget seperti orang yang terciduk ketika maling gorengan ataupun lainnya. Kemudian, ada yang tangannya gemetar, ada yang menunduk, ada yang memalingkan wajah, dan ada juga yang mencoba berlari. Entahlah!
"Itu apaan yang ada di kantong, kamu?" tanyaku kepada anak yang berbaju hitam dengan nada santai.
"Ini ...." Anak itu malah tampak sulit untuk menjawabnya.
Rasa penasaranku pun semakin memuncak ketika jawaban itu tampak mengambang di langit-langit sehingga sulit untuk dicerna oleh pikiran. Aku menghela napas panjang dulu sebentar, lalu mendekati anak yang membawa kantong hitam dengan di dalamnya seperti ada cahaya misterius.
"Ini apa?" Aku pun tak kuat ketika melihat dalam kantong itu, cahaya begitu menyilaukan mata sampai tangan kananku menutup wajah.
"Ma-ta-ha-ri, Bang," jawab anak berkaos merah terbata-bata.
"Apa?"
"Itu matahari, Bang. Terus yang di sana, kami ganti dengan bohlam," jawab anak wanita yang mungkin saja berusia sepuluh tahun sambil menunjuk langit.
"Apa? Kalian?"
Anak-anak itu pun berani untuk bicara secara terbuka ketika menjelaskan kenapa mereka mengambil matahari yang menggantung di langit. Katanya ini, mereka cuma iseng untuk menjadikan matahari ini hidangan makan siang agar tampak kuat. Kemudian, mereka pun berpikir bahwa kalau memakan matahari maka jiwa-jiwa yang lemah itu bisa keras untuk nanti menaklukan dunia.
Aku mengerutkan kening karena cara berpikir anak-anak itu sudah melampaui logika anak sepantarannya. Berlarian ke langit. Mengambil matahari lalu menggantinya dengan bohlam. Mau menjadikan matahari hidangan makan siang. Semua itu menjadikan semacam dongeng pengantar tidur yang dijadikan kenyataan untuk hidup mereka.
Sekarang, aku menikmati lukisan ini sambil matahari benar-benar sudah hilang dan hanya bohlamlah yang jadi andalannya. Matahari itu benar-benar sudah dimakan oleh anak-anak pengantar tidur. Kemudian, aku pun mengambil kuas lalu menggoreskan cat warna merah pada lukisan ini dengan kata, tamat! Dunia pun menjadi hitam semua!(*)
2026
Komentar
Posting Komentar