Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2026

Postingan Terbaru

Inilah Beberapa Manfaat Buah Kesemek untuk Kesehatan Tubuh, Nomor 4 Bagus untuk Wanita!

Gambar
Ilustrasi | Buah Kesemek/tanamanmart.com Kesemek atau biasa juga kita kenal dengan sebutan "apel jawa" atau "apel gunung" karena bentuk buahnya yang menyerupai apel dan tanamannya tumbuh banyak di daerah Pulau Jawa dan dataran tinggi. Kesemek ini walaupun rupa dan bentuknya seperti apel, tapi tekstur buah ini tidak keras dan rasanya berbeda dengan apel yang pada umumnya. Kemudian, kesemek pun memiliki nama ilmiah diospyros kaki yang berarti buah ini dihasilkan oleh sejenis tanaman marga diospyros. Jikalau menilik lebih dalam lagi bahwa buah ini terkenal dengan sebutan buah kaki, atau dalam kamus Inggris disebut juga oriental persimmon atau japanese persimmon. Lebih lanjut lagi kesemek atau yang biasa kita lihat bentuknya seperti tomat, lalu termasuk buah yang berasal dari Jepang dan Cina. Buah ini juga memiliki rasa manis yang ringan dan kaya akan sumber energi, khususnya dalam bentuk karbohidrat dengan jumlah serat yang baik, serta mengandung antioksidan bagi...

Bunga Itu Telah Mekar

Gambar
Ilustrasi | Gemini AI  Sudah beberapa jam, manusia berambut merah berdiri terus di depan rumah, ia tampak menatap tajam indahnya bunga yang pernah kamu tanam! Ia sendiri memakai jaket kulit yang mungkin saja hasil dari jahitan sendiri lewat kenangan-kenangan yang indah.  Aku terjaga di sini, menatap manusia itu di balik jendela  kamar yang terasa sunyi merasuki hati. Entah, hal apa yang sedang merasuki pikiran ini hingga terombang-ambing bak layangan putus. Aku terpaku di sudut lima kamar rumah, sedangkan manusia yang berperawakan tinggi itu malah berdiri terus di situ.  "Bunga mawar yang kamu tanam itu, ternyata banyak yang suka, ya," kataku pelan dan mungkin saja tak ada yang mendengar seorang pun. "Andaikan kamu masih di sini, mungkin saja akan memberi tahu manusia itu bahwa bunga ini ialah bunga saksi cinta kita," lanjutku lalu duduk di kursi meja kerja yang ada di kamar. Perjalanan yang kini terasa olehku seperti bumerang menusuk kalbu. Aku mengingat di kala pe...

Anak-Anak Berlarian ke Langit

Gambar
Ilustrasi | Gemini AI  Setelah bulan ke satu selesai dalam kalender Hijriah, suasana pagi semakin syahdu saja hingga daun-daun pun tampak enggan untuk berguguran. Namun, ada satu hal yang amat berbeda, anak-anak terlihat sangat nyaman bermain di halaman rumah. "Kalian yang ngumpet, aku yang jaga, ya!" kata Sandi, anak yang mungkin usianya hampir sepuluh tahun kepada temannya. Melihat pemandangan itu, aku jadi kembali lagi ke masa lampau yang di mana bermain petak umpet di jalanan, kebun, dan bekas-bekas gedung pencakar langit. Memori itu malah terbuka dengan berjalannya waktu yang kini aku melihat anak-anak bermain di depan mata. "Ngumpet di mana, ya," desus Sista, anak perempuan yang paling terlihat imut dan kebingungan itu. Aku pun hanya bisa duduk di sini, menikmati anak-anak yang sedang bermain di halaman rumah sambil ditemani lagu kemesraan. Mengenang di mana sebuah cinta itu masih ada. Menikmati. Namun, berakhir terluka kalau sesudah kenangan-kenangan itu kelu...

Sayur Asem, Ikan Asin

Gambar
Ilustrasi | Gemini AI  kata mamah,  sayur asem ini spesial  lengkap, masih angat  plus ikan asin yang  jadi temannya  aku tersenyum  melihat kacang panjang  kacang tanah  labu siam  daun melinjo jahe sedikit dicampur di satu wadah  "ah, mantap ini!"  kataku seraya menyinduk sayur asem itu  "ini spesial buat anak mama yang baru pulang."  mamah juga berkata lalu tersenyum  di meja makan, semuanya terkumpul  ada ikan asin jambal roti kerupuk, tempe, dan tahu  yang berderet rapi  untuk masuk ke dalam ini  "makanlah yang banyak!"  suruh mamah dengan suara khas  yang saban waktu berputar-putar  di pikiran ini  ah okay, kataku dalam hati  lalu menganggukkan kepala  karena takut nasi ini mengganjal  di gigi yang sudah pada bolong 2026

Kaca Retak

Gambar
Ilustrasi | Gemini AI  Terbilang rindu atau hanyalah ilusi yang membuat kaca ini retak di kala wajahku bercermin pada kenyataan. Retakannya itu pun sangat parah sampai wajahku hanya terlihat setengah dalam alunan keresahan ini. Aku mencoba menafsirkan tentang semua ini ibarat memotret jalan yang berlubang. Mengusap kaca yang retak itu bagaikan kita berjalan pada dinding kehancuran. Tak ada yang bisa menolong, apalagi berharap untuk keselamatan. Kaca ini menggambarkan hati yang mudah rapuh walaupun sering dipakai untuk bercermin pada diri.  Namun, banyak orang yang mampu menggoreskan harapan walaupun semua itu hanya sekata. Cermin kehidupan bisa dinilai dari seberapa kaca ini kuat menanggung wajah-wajah yang kusam. Membangkitkan asa yang sudah lama padam, lalu padam lagi. Tanganku berjalan di atas kaca untuk mencoba mengukur diri yang sudah sampai mana memahami arti kehidupan. Kaca pun semakin retak ketika langkah demi langkah malah terjerumus pada jurang ketidakberdayaan. Gamb...

Semut Merah di Depan Mata

Gambar
Ilustrasi | Pexels.com/ Jithin Vijayamohanan Semut-semut merah pada berjalan seperti diiringi orkestra yang mengalun merdu. Langkah demi langkahnya seirama untuk memulung arti semua kenangan. Aku pun memandang mereka itu berjalan sambil membawa beban masing-masing. Mentari pun mulai muncul ke permukaan, aku mulai merasa terbakar oleh panas-panas yang menyerang tubuh. Semut-semut itu bersorak sangat nyaring terdengar olehku, lalu mengucap mantra-mantra yang paling sunyi. Mataku menyapu di balik cahaya yang tiba-tiba muncul di halaman hati ini. Tempat ini serasa kosong nan sunyi, tak berarti dan tenggelam pada jiwa-jiwa yang suram. Semut-semut saling berbagi jatah yang amat didambakan. Mereka meminum air yang dibawa secara gotong royong. Mereka memakan manisan yang mereka curi secara perlahan-lahan. Aku menafsirkan semut-semut ibarat gambaran dinamika yang tak berarti. Berjalan. Bekerja sama. Makan. Kemudian, dianggap tak berguna lagi; mati. Semut-semut merah ada di depan mata, meringkuk...

Pupus

Gambar
Ilustrasi | Gemini AI  "Tolong kita cukup di sini saja!" pinta Alina di depan Andi yang tampak penuh luka batin itu.  Andi menundukkan kepalanya, tangannya bergetar seakan-akan ada angin ribut yang menggerakkan. Toko bangunan pun menjadi saksi di kala satu kalimat itu terucap dari Alina, wanita berkerudung hitam yang saban waktu diagung-agungkan oleh Andi. "Kenapa malah diam saja?" tanya wanita yang berusia 25 tahun itu. Andi tersenyum, lalu tenggorokannya seperti ada yang mengganjal. Wanita yang berparas cantik itu menggelengkan kepalanya seperti tanda tak percaya bahwa ia didiamkan oleh Andi. Kemudian, udara pun semakin tak karuan. Banyak plastik sisa makanan beterbangan di jalanan. Banyak juga orang yang kocar-kacir ketika pintu langit itu mulai terbuka di jalanan.  "Ada apa denganmu?" tanya Alina sekali lagi sambil mengerutkan keningnya. "Jangan tanya lagi! Aku baik-baik saja," jawab Andi datar. Hujan mulai turun membasahi jalanan, mobil-mobi...

Menulis Kembali

Gambar
Ilustrasi | Pexels.com/ Samer Daboul Jikalau semuanya bisa berubah, maka izinkanlah aku menulis kembali di kertas kosong; media yang paling kusembunyikan ini. Aku menulis kembali bak burung yang terbang di langit, memutari rumah-rumah; gedung-gedung; pabrik-pabrik yang sudah terisi oleh robot-robot pemusnah harapan. "Semuanya akan seperti semula, kita berlari-lari untuk mencari yang tak pasti." Tiba-tiba saja Solehudin malah berkata semacam itu.  Aku mengerutkan kening seperti ada kunang-kunang di dalam kepala, lalu mencoba untuk menafsirkan hal apa yang dikatakan oleh temanku itu. "Coba lihat langit yang biru itu, kita bisa menuliskan keindahan di sana!" kata Solehudin sambil menyapu langit yang cerah. "Apakah semudah yang kau ucapkan itu?" tanyaku yang mencoba memberikan tekanan pada Solehudin.  Solehudin terdiam, lalu kepalanya malah menunduk seperti sedang mencari kata-kata untuk menjawab pertanyaanku itu! "Susah, kan?"—aku menepuk pundak Sol...

Merajut Kata-Kata

Gambar
Ilustrasi | Grok Kata orang, merajut kata-kata itu impian para gadis untuk mencurahkan semua kegundahannya. Namun, aku sendiri menyadari bahwa merajut itu ialah permainan sederhana yang membukakan mata hati. "Nuju naon di gubuk tua ini?¹" tanyaku di kala bulan sabit menggantung di langit hitam.  "Merajut kenangan yang tercecer di dalam sini," jawab wanita berkerudung putih yang usianya mungkin masih belasan tahun. Aku melihat benang-benang yang terbuat dari harapan dan jarum yang terbuat dari tekad, merajut di kain yang terbuat dari impian. Kemudian, banyak wanita yang saling melemparkan senyum seperti mereka ini sangat menikmati semua harapannya itu berhasil menempel di kain.  "Memerlukan waktu berapa lama agar bisa berbentuk seperti ini?" tanyaku sambil memperlihatkan kain bergambar cinta kepada wanita berhidung mancung yang duduk di sudut pintu.  "Itu kurang lebih dua belas hari," jawabnya lalu tersenyum seperti ia sudah menang melawan tekad ...

Memandang Lukisan

Gambar
Ilustrasi | Gemini AI  Sewaktu selesai duha, hujan rintik-rintik membasahi jalanan dan aku pun terpaksa harus memarkirkan mobil diesel ini di depan warung. Kemudian, aku pun menikmati secercah harapan yang ditampilkan orang-orang di sini; tersenyum ibarat sudah memenangkan lotre untuk kehidupan. Hujan semakin turun di luaran sana, lalu aku memutuskan untuk duduk di sini sambil ditemani secangkir kopi yang uapnya masih mengepul. Mataku menyapu setiap inci yang ada di warung, lalu terdiam pada satu fokus lukisan di sini.  "Lukisan itu siapa yang buat, Mang?" tanyaku penasaran, lalu Mang Warung itu malah tersenyum saja. Dilihat secara telanjang lukisan itu indah menggambarkan kekasih yang dimabuk asmara. Namun, Mang Warung itu belum bisa menjawab siapa yang membuatnya. Aku terus memandangnya secara seksama, lalu mencoba menafsirkannya dengan hati yang terbuka. Pikiranku malah melompat ke belakang, mengingat lukisan itu hampir mirip dengan lukisanku di rumah. Ada mata indah yang ...

Langkah Sistematis, Penuh Luka, dan Refleksi Diri

Gambar
Langkah ini langkah yang seperti berjalan di jembatan goyang, harus hati-hati kalau terkena badai demi ketahanan hidup. Perjalanan pun akan semakin ketat di kala terus berjalannya waktu. Oleh karena itu, langkah sistematis ini harus bisa diambil di kala hati penuh luka yang diharuskan refleksi diri di setiap waktu.  Hal ini menjadi suatu kesatuan di mana air mata bisa menjadi suatu jalan atau langkah yang amat konkret untuk kehidupan. Dilematis. Perjalanan hidup. Asmara. Semua itu bisa menjadi suatu jalan untuk menciptakan langkah sistematis ke depannya.  Langkah sistematis bisa dimulai dari hal sederhana yang teratur dalam dinamika kehidupan. Melawannya. Menaklukannya. Itulah yang bisa diambil dari dinamika kehidupan untuk mengatur jalan ke depannya. Kemudian, penuh luka di dalam jiwa pun mampu menjadi suatu vaksin untuk menciptakan semangat yang lebih untuk dasar yang namanya balas dendam—bekerja untuk mencapai yang diinginkan.  Pada bagian ini, tentu kita akan mengorek...

Rumah

Gambar
Setahun lebih, kita bagaikan partikel-partikel yang berceceran, sulit bersatu walaupun hanya dijadikan satu bentuk seni di dalam ruangan. Aku menerka, menyeret kehidupan ini ke jalan kebimbangan hingga pikiran keluar untuk bertanya kepada hal yang tak pasti.  "Simpanlah jasmu di kursi lapuk itu," kata Abah di kala langit pun menangis melihatku yang murung di beranda rumah ini.  "Aku ... masih sulit melupakannya," ucapku ketika kedua bola mata ini menyapu langit yang dipenuhi bintang.  "Mari kita pakai kaos dan simpanlah jasmu itu!" Abah pun menyuruhku, sedangkan suaranya masih terasa basah. Aku mencoba menarik teka-teki kehidupan ini yang menggantung di langit dengan benang seadanya. Perlahan-lahan. Langkah demi langkah. Abah pun tampak mengeluarkan mantra terindah yang dimilikinya untuk jiwa yang dirundung kemuraman ini.  "Perlahan-lahan, jangan sampai putus!"—aku pun melirik Abah yang masih setia berada di samping—"Kita usahakan kau bisa s...

Tulisan Favorit Pembaca

Mengenal Tari Topeng Cirebon, Sejarah, Jenis, dan Filosofi yang Terkandung dari Keindahannya, Silakan Disimak!

5 Cakupan Tindak KDRT dan Akibat yang Bisa Terjadi, Pasutri Wajib Tahu!

Mari Berkenalan dengan Gurita Teleskop, Penghuni Laut Dalam!

Kue Kontol Sapi, Makanan Unik Khas Cilegon

Batu Hitam yang Terluka