Inilah Beberapa Manfaat Buah Kesemek untuk Kesehatan Tubuh, Nomor 4 Bagus untuk Wanita!
![]() |
| Ilustrasi | Pexels.com/Samer Daboul |
Jikalau semuanya bisa berubah, maka izinkanlah aku menulis kembali di kertas kosong; media yang paling kusembunyikan ini. Aku menulis kembali bak burung yang terbang di langit, memutari rumah-rumah; gedung-gedung; pabrik-pabrik yang sudah terisi oleh robot-robot pemusnah harapan.
"Semuanya akan seperti semula, kita berlari-lari untuk mencari yang tak pasti." Tiba-tiba saja Solehudin malah berkata semacam itu.
Aku mengerutkan kening seperti ada kunang-kunang di dalam kepala, lalu mencoba untuk menafsirkan hal apa yang dikatakan oleh temanku itu.
"Coba lihat langit yang biru itu, kita bisa menuliskan keindahan di sana!" kata Solehudin sambil menyapu langit yang cerah.
"Apakah semudah yang kau ucapkan itu?" tanyaku yang mencoba memberikan tekanan pada Solehudin.
Solehudin terdiam, lalu kepalanya malah menunduk seperti sedang mencari kata-kata untuk menjawab pertanyaanku itu!
"Susah, kan?"—aku menepuk pundak Solehudin—"Makanya menulis itu tak semudah membalikkan telapak tangan," lanjutku lalu duduk di kursi taman depan rumah ini.
Pagi yang amat indah, udaranya begitu meresap ke dalam jiwa dan burung-burung berkicau bak suasana pedesaan yang masih asri. Aku menikmati semua langkah di pagi ini, lukisan-lukisan yang khas di tembok rumah, dan kenangan-kenangan yang tertanam di sini.
"Hayukk ... menulis kembali seperti sajak-sajak yang pernah kau kirimkan ketika dulu ke pacarmu!" Tiba-tiba lagi Solehudin malah berkata semacam itu.
Sial! Temanku yang berambut gondrong itu malah mengorek-ngorek kenangan yang sudah terkubur. Aku pun menahan saliva lalu mengerutkan kening di kala ingatan tentang sajak-sajak itu malah dibuka kembali oleh Solehudin.
Hmm. Sewaktu dulu, aku tuliskan sajak-sajak penuh penghayatan untukmu, Alina. Tak pernah sedikit pun aku kalah oleh waktu, oleh jiwa yang dirundung kegalauan. Namun kini, kau harus tau bahwa bulan pun tampak kurang indah di langit hitam ketika kabarmu pun tak bisa kudengar. Hatiku tenggelam, Alina. Sungguh!
"Bro, tolonglah jangan ungkit-ungkit masa lalu!" pintaku dengan nada tinggi yang mungkin saja menerobos masuk telinga Solehudin.
Solehudin menganggukkan kepala, sedangkan aku terus mencari rangkaian kata yang sudah lama tercecer di halaman jiwa. Aku bergulat dengan kata-kata yang mencoba berlari. Aku tonjok. Aku tendang. Sampai kata-kata itu bisa kugenggam dalam alunan syahdu untuk dituliskan pada selembar kertas kosong ini.
"Di sinilah, kutuliskan semua tentangmu yang dulu pernah kukatakan kau itu ibarat emas, sedangkan aku tembaga yang tak bisa bersatu," kataku pelan yang mungkin saja samar-samar terdengar oleh temanku itu.
"Cieee." Solehudin malah meledekku, lalu ia pun bertanya, "Nah, kataku juga apa? Kau, ini belum bisa melupakan wanita itu, kan?"(*)
2026
Komentar
Posting Komentar