Inilah Beberapa Manfaat Buah Kesemek untuk Kesehatan Tubuh, Nomor 4 Bagus untuk Wanita!
![]() |
| Ilustrasi | Gemini AI |
"Tolong kita cukup di sini saja!" pinta Alina di depan Andi yang tampak penuh luka batin itu.
Andi menundukkan kepalanya, tangannya bergetar seakan-akan ada angin ribut yang menggerakkan. Toko bangunan pun menjadi saksi di kala satu kalimat itu terucap dari Alina, wanita berkerudung hitam yang saban waktu diagung-agungkan oleh Andi.
"Kenapa malah diam saja?" tanya wanita yang berusia 25 tahun itu.
Andi tersenyum, lalu tenggorokannya seperti ada yang mengganjal.
Wanita yang berparas cantik itu menggelengkan kepalanya seperti tanda tak percaya bahwa ia didiamkan oleh Andi. Kemudian, udara pun semakin tak karuan. Banyak plastik sisa makanan beterbangan di jalanan. Banyak juga orang yang kocar-kacir ketika pintu langit itu mulai terbuka di jalanan.
"Ada apa denganmu?" tanya Alina sekali lagi sambil mengerutkan keningnya.
"Jangan tanya lagi! Aku baik-baik saja," jawab Andi datar.
Hujan mulai turun membasahi jalanan, mobil-mobil, gerobak, sampai orang-orang yang memaksakan untuk menembusnya. Namun, Andi tampak dingin ketika melontarkan jawaban yang mungkin saja menusuk sanubari wanita di depannya itu.
Dalam bayang-bayang suara hujan, lelaki berperawakan tinggi itu mengingat kembali tentang satu cinta yang amat. Namun, semua itu harus berakhir dengan duka yang menyerang pikiran setiap harinya. Andi mengerutkan kening lalu menggaruk-garuk kepala yang tak gatal. Lelaki berusia 27 tahun itu benar-benar hanya bisa memandang Alina dengan tatapan yang amat kosong.
Lelaki berkumis tipis itu pun sering kali menunduk lesu ketika ucapan terakhir orang tuanya Alina itu muncul. Sudahlah kau ini tak pantas untuk Alina, kata semacam itulah yang saban waktu menjadi penyakit di dalam hati. Apa mungkin cinta itu pilihan, Andi pun malah sering bertanya semacam itu dan ia sendiri tak mampu menjawabnya.
"Aku tak akan bertanya lagi!"—Alina memegang kedua tangan Andi—"Namun, aku minta maaf juga kita sudah sampai sini saja!" lanjutnya dengan nada yang mantap.
Andi tertunduk dan ia seperti sedang mencari kata-kata yang mungkin saja berceceran di halaman jiwa untuk menjawab Alina. Kemudian, selang beberapa menit Andi pun berkata, "Cinta dan uang, menurut orang tuamu berbeda arti,"—Alina mengerutkan kening tampak kebingungan dengan kalimat itu—"aku pun bukan pilihan orang tuamu," ucap Andi sambil melepaskan tangan dari wanita yang memegangnya.
"Apa?" Tiba-tiba saja pikiran Alina melompat ke belakang sewaktu Andi main ke rumahnya, lalu setelah itulah lelaki berhidung mancung itu mulai berubah untuknya.(*)
2026
Komentar
Posting Komentar