Inilah Beberapa Manfaat Buah Kesemek untuk Kesehatan Tubuh, Nomor 4 Bagus untuk Wanita!
![]() |
| Ilustrasi | Gemini AI |
Sudah beberapa jam, manusia berambut merah berdiri terus di depan rumah, ia tampak menatap tajam indahnya bunga yang pernah kamu tanam! Ia sendiri memakai jaket kulit yang mungkin saja hasil dari jahitan sendiri lewat kenangan-kenangan yang indah.
Aku terjaga di sini, menatap manusia itu di balik jendela kamar yang terasa sunyi merasuki hati. Entah, hal apa yang sedang merasuki pikiran ini hingga terombang-ambing bak layangan putus. Aku terpaku di sudut lima kamar rumah, sedangkan manusia yang berperawakan tinggi itu malah berdiri terus di situ.
"Bunga mawar yang kamu tanam itu, ternyata banyak yang suka, ya," kataku pelan dan mungkin saja tak ada yang mendengar seorang pun. "Andaikan kamu masih di sini, mungkin saja akan memberi tahu manusia itu bahwa bunga ini ialah bunga saksi cinta kita," lanjutku lalu duduk di kursi meja kerja yang ada di kamar.
Perjalanan yang kini terasa olehku seperti bumerang menusuk kalbu. Aku mengingat di kala pertama kali kita menatap bunga itu sampai kini telah berbunga sangat indah. Aku ingat pertama kali kau berkata, tolong jaga bunga ini demi cinta kita!
Namun, perjalanan itu malah menjadi catatan penuh kenangan di dalam hati; jiwa. Aku pun selalu berkata, bunga yang indah akan menemui pemiliknya! Hmm. Sekarang di luaran sana, aku menatap manusia berambut merah itu sedang mengambil gambar yang mungkin saja untuk dokumentasi pribadinya ataupun lain.
"Apakah kau akan ke sini lagi?" tanyaku sambil menatap indah wajahmu yang dulu kau kirimkan lewat foto nan sederhana ini.
Kini aku pun paham, hidup ini seperti pohon yang tinggi gagah menantang lalu ambruk juga tergerus oleh waktu. Kemudian, itulah yang sudah terjadi kepadamu. Aku begitu kehilangan sampai dada ini terasa membeku.
Sekarang, harus bagaimana aku melukiskan kenangan tentang kita; tentang bunga yang pernah kamu tanam itu?
Selang beberapa menit, aku pun mendekati manusia berambut merah itu lalu bertanya, "Sedang apa kau di sini?" Manusia itu pun tersentak kaget. "Sedang apa di sini?" lanjutku dengan nada nyantai.
"Aku ingin mengambil foto bunga ini, boleh?" Manusia itu malah balik bertanya sambil tangannya memegang kamera.
"Ya, silakan," kataku yang tak ingin panjang lebar untuk berkata lagi tentang ini.
Aku pun hanya bisa mengingat dan berpikir, andaikan kamu masih ada di sini maka akan kuperlihatkan ini—indahnya bunga saksi cinta kita—hingga kutuliskan sajak agar wajahmu pun berbunga-bunga tentang semua cinta ini.
Namun di waktu ini, aku hanya bisa menyampaikan mantra terindah dan berharap sampai ke pusaramu hingga tanggul mata ini benar-benar jebol. Aku pun mendadak dingin dan seperti ada cahaya putih yang bergerak ke arah jiwa ini. Aku terdiam dan seperti ada kata yang terdengar, aku juga rindu!
2026
Komentar
Posting Komentar