Inilah Beberapa Manfaat Buah Kesemek untuk Kesehatan Tubuh, Nomor 4 Bagus untuk Wanita!
Setahun lebih, kita bagaikan partikel-partikel yang berceceran, sulit bersatu walaupun hanya dijadikan satu bentuk seni di dalam ruangan. Aku menerka, menyeret kehidupan ini ke jalan kebimbangan hingga pikiran keluar untuk bertanya kepada hal yang tak pasti.
"Simpanlah jasmu di kursi lapuk itu," kata Abah di kala langit pun menangis melihatku yang murung di beranda rumah ini.
"Aku ... masih sulit melupakannya," ucapku ketika kedua bola mata ini menyapu langit yang dipenuhi bintang.
"Mari kita pakai kaos dan simpanlah jasmu itu!" Abah pun menyuruhku, sedangkan suaranya masih terasa basah.
Aku mencoba menarik teka-teki kehidupan ini yang menggantung di langit dengan benang seadanya. Perlahan-lahan. Langkah demi langkah. Abah pun tampak mengeluarkan mantra terindah yang dimilikinya untuk jiwa yang dirundung kemuraman ini.
"Perlahan-lahan, jangan sampai putus!"—aku pun melirik Abah yang masih setia berada di samping—"Kita usahakan kau bisa semangat lagi," katanya pelan dengan wajah penuh pengharapan.
Setelah kurang lebih sepuluh menit, teka-teki itu berhasil kugenggam dengan tangan kosong, lalu berkata, "Abah, ... akan kupecahkan teka-teki dengan hati yang benar-benar tinggal separuh ini."
Lelaki tua berambut perak itu menganggukkan kepala lalu tersenyum tipis, seperti ia sangat percaya terhadap cucunya ini. Kemudian, dadaku semakin naik turun dan udara malam pun benar-benar membombardir jiwa ini.
"Iya, jas sama kemeja yang sering kau pakai itu biar simpan saja di sini!" Abah pun menunjuk kursi yang ada di dekatnya, "mari kita menulis kembali," lanjutnya untuk menenangkanku.
Dalam balutan malam, luka ini masih menganga di waktu yang kian menipis. Aku tak karuan. Ruang kerja pun mejadi ruang terapis hati yang sungguh galau merana ini. Namun di malam ini, aku menatap kosong separuh dunia yang masih ada di sini.
"Jika kau merasa cape mengurus semua pekerjaanmu itu, maka istirahatlah! Biar nanti abah yang nyari orang untuk sementara menggantikanmu dulu."
"Aku tak bisa ..., di situlah aku bisa balas dendam agar tak selalu mengingatnya."
"Tapi, kan ...."
"Kan kata Abah juga simpanlah dulu jasmu lalu mari menulis. Aku akan menulis kembali untuk menenangkan jiwa ini," kataku, lalu ada yang jatuh dari kedua mata ini membasahi wajah.
Aku duduk di kursi beranda rumah ini, menatap sekitar; ada daun-daun yang jatuh; ada kembang-kembang yang mulai mekar; ada bulan yang menggantung di langit; ada suara-suara jangkrik yang menghiasi. Aku mencoba menikmati setiap yang tertangkap oleh mata ini, lalu Abah pun tiba-tiba berkata, "Gimana suasana rumah yang dulu pernah menjadi saksi kamu dilahirkan ini masih indah, kan?"
Aku tersenyum dan hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala tanda masih indah. Bangunan khas zaman dulu dengan tembok yang harus dicat ulang ini masih menyisakan kenangan-kenangan indah. Aku mengingat ketika kecil bermain di sini; petak umpet; dokter-dokteran; kerambol, serta kenangan yang tak bisa dihapus oleh sapu tangan emas mana pun.
Sekarang, aku membawa duka ke rumah ini untuk bisa direnungkan oleh mata hati yang amat dalam. Kemudian, Abah pun menyambutnya dengan tangan terbuka sambil berkata, "Jangan buka jati dirimu ini ke orang lain, biarlah nanti juga waktu yang akan menjawabnya!"(*)
2026
Komentar
Posting Komentar